Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjamin harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tak bakal ikut naik ditengah lonjakan harga minyak dunia imbas perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang sudah mulai meluas ke sejumlah kawasan Timur Tengah.
Bahlil mengatakan, harga BBM Subsidi akan stabil setidaknya hingga periode Idulfitri 2026. Bahlil menegaskan stok cadangan BBM sekarang ini dalam kondisi aman, tak ada yang mengkhawatirkan.
Baca Juga: Iran Tunjuk Mojtaba Gantikan Posisi Ali Khamenei, Israel-AS Kompak Merespons
“Kita melihat posisi harga minyak dunia sekarang sudah melampaui 100 dolar. Dan inilah kondisi yang terjadi akibat dampak dari perang Iran versus Israel dan Amerika,” ungkap Bahlil di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Senin (9/3/2026).
Adapun harga minyak dunia mulai melonjak naik setelah perang Iran pecah beberapa hari lalu. Saat ini rata-rata harga minyak dunia diketahui telah berada di atas US$ 100 per barel.
Bahlil meminta masyarakat tak perlu mengkhawatirkan persediaan BBM di tengah kondisi geopolitik yang kian tak menentu belakangan ini. Ia mengatakan ancaman krisis minyak itu bisa diatasi pemerintah.
“Sekali lagi saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa khawatir menyangkut harga. Karena sampai dengan hari raya ini Insyaallah enggak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga melampaui US$ 100 per barel pada Minggu (9/3/2026) malam atau Senin pagi WIB. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) yang berpotensi mengganggu jalur produksi serta pengiriman minyak di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan di Chicago Mercantile Exchange, harga minyak mentah standar internasional Brent melesat 16,5% ke level US$ 107,97 per barel seperti dipantau Associated Press, Senin (9/3/2026). Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah Amerika Serikat, melonjak 16,9% menjadi US$ 106,22 per barel.
Ini merupakan pertama kalinya dalam lebih dari tiga setengah tahun harga minyak menyentuh angka psikologis di atas US$ 100, setelah terakhir kali terjadi pada pertengahan 2022.