Kemudian, Koreografer, Sandidhea menyoroti peningkatan kualitas peserta dari tahun ke tahun.
“Tentu saja secara pribadi saya sangat merasa bangga, apalagi dengan progres baik itu di kuantitas maupun kualitasnya, semuanya mengalami improvement yang cukup signifikan dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa seleksi tidak dimaksudkan untuk membandingkan satu kesenian dengan yang lain.
“Kami tidak dalam rangka untuk membandingkan kesenian yang satu dengan yang lain, semuanya tentu punya value-nya masing-masing,” jelasnya.
Menurut Sandidhea, pemilihan 27 penari bertujuan menghadirkan representasi keberagaman Indonesia dalam satu karya besar.
“Tujuan dari apa yang kita lakukan untuk mendapatkan 27 besar ini lebih kepada bagaimana pemerataan dan juga keberagaman yang ada di wilayah Indonesia ini bisa terkristalisasi lewat karya besar,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Koreaografer Pagelaran Sabang Merauke, Pulung Jati yang menekankan pentingnya proses.
“Apa yang ada di panggung ini menjadi ruang proses kita bersama,” ujarnya.
Pulung pun mendorong para peserta untuk terus berkembang tanpa terpaku pada hasil akhir.
“Harapannya orientasi kita Bersama, bagaimana kita untuk selalu meng-upgrade diri kita, bagaimana kita selalu berproses untuk berkembang,” lanjutnya.
Sementara itu, Director Pagelaran Sabang Merauke, Rusmedie Agus, mengaku bangga melihat antusiasme masyarakat yang memadati area pertunjukan.
“Begitu bangganya saya, begitu ramainya ini menyaksikan pertunjukan kebudayaan,” tukas Memed, panggilan akrabnya.
Memed menegaskan bahwa budaya tetap memiliki tempat istimewa di hati publik.
“Faktanya pada hari ini di Grand Indonesia begitu banyaknya dukungan untuk kebudayaan Indonesia,” tegasnya.
Bahkan, ia menyebut nilai budaya melampaui nilai komersial.
“Kebudayaan kita lebih mahal dari segalanya,” ungkapnya.
Selanjutnya, Pemerhati Seni, Giok Hartono, pun turut memberikan pesan realistis kepada para peserta.
“Memang ini namanya juga audisi, akan ada yang terpilih dan ada yang tidak terpilih, bukan menang atau kalah ya,” tukasnya.
Giok mengakui bahwa kualitas peserta yang merata membuat proses seleksi menjadi sulit.
“Kalian semua sudah membuat kami sulit memilih, karena sebetulnya kalian semua itu bagus. Cuma karena harus memilih 27, ya kita harus menentukan,” katanya.
“Bagi yang belum terpilih, teruslah berlatih,” sambung Giok.