Polemik sayembara pembuktian ijazah SMA atau sederajat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali memanas. Pemerhati sosial dan politik Adian Radiatus meminta Gibran mengambil langkah konkret menghadapi sayembara yang digagas pakar hukum tata negara Prof Denny Indrayana tersebut.
Adian menilai Presiden Prabowo Subianto dan Kabinet Merah Putih tidak seharusnya membiarkan polemik itu terus bergulir. Menurutnya, Gibran kini telah menjadi sasaran dalam persoalan yang tidak lagi sebatas urusan pribadi.
“Minimal Wapres harus lakukan tindakan pembuktian dan menuntut secara hukum pembuat sayembara demi kehormatan negara,” kata Adian melalui akun X, dikutip Jumat (28/8/2026).
Menurut Adian, sayembara tersebut telah membawa persoalan ijazah Gibran ke ranah yang lebih luas. Ia bahkan menilai isu tersebut kini berkaitan dengan kredibilitas negara.
“Di mata Adian, sayembara ijazah SMA sudah bukan lagi ranah pribadi Wapres Gibran semata, tetapi kredibilitas negara,” demikian pandangannya.
Adian kemudian membandingkan persoalan tersebut dengan polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang sebelumnya juga menjadi perdebatan publik. Ia menilai kasus tersebut turut memberikan dampak terhadap citra Indonesia.
“Kecuali yang terjadi pada mantan Presiden Jokowi yang kebetulan ayahnya Wapres dimana meskipun situasinya memalukan bangsa juga karena hingga saat ini tiada kejelasan secara absolut meski 90 persen rakyat yang peduli yakin kalau pun asli tapi diperoleh secara palsu,” pungkas Adian.
Pernyataan Adian tersebut disampaikan ketika sayembara pembuktian ijazah Gibran yang digagas Denny Indrayana masih terus bergulir. Denny sebelumnya mengungkapkan nilai hadiah yang terkumpul dalam sayembara tersebut telah mendekati Rp3,5 miliar.
“Hadiah sayembara menunjukkan ijazah SMA/sederajat Mas Gibran sudah mendekati Rp3,5 miliar,” kata Denny melalui akun Facebook pribadinya.
Besarnya hadiah sayembara tersebut turut membuat polemik mengenai dokumen pendidikan Gibran kembali menjadi perhatian. Namun, Adian menilai persoalan tersebut semestinya tidak dibiarkan berlarut-larut.
Ia mendorong Gibran melakukan pembuktian sekaligus mengambil langkah hukum terhadap pembuat sayembara. Bagi Adian, langkah tersebut diperlukan bukan hanya untuk menjawab polemik mengenai dokumen pendidikan Gibran, tetapi juga demi menjaga kehormatan negara.