Keluhan masyarakat soal mahalnya berbagai kebutuhan dan semakin ketatnya pengeluaran belum tentu mencerminkan keseluruhan kondisi perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto justru menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja positif.

Ia membantah anggapan bahwa perekonomian Indonesia tengah lesu dengan menunjuk sejumlah indikator, mulai dari pertumbuhan ekonomi, konsumsi kendaraan, hingga aktivitas perdagangan digital.

“Pertama, saya ingatkan bahwa perekonomian kita sampai semester I (2026) masih tumbuh 5,45 persen, artinya itu adalah salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Jadi ekonominya tinggi,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, dikutip Jumat (28/8/2026).

Menurut Airlangga, aktivitas konsumsi masyarakat juga masih bergerak. Ia mencontohkan penjualan kendaraan dalam pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS).

Baca Juga: Langkah Kemnaker Hadapi Transisi Ekonomi Hijau

Pertumbuhan juga terlihat pada penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Airlangga menyebut penjualan kendaraan listrik pada semester I 2026 tumbuh hingga 80 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, baik untuk kendaraan hybrid maupun berbasis baterai.

“Jadi kalau itu kita melihat sebetulnya ekonomi kita track-nya masih berjalan dan indeks keyakinan konsumen (IKK) juga masih di atas 100,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah tetap menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat. Salah satunya melalui bantuan beras yang akan terus diberikan hingga kuartal IV 2026.

Selain itu, pemerintah memberikan insentif Pajak Penghasilan (PPh) ditanggung pemerintah bagi pekerja dengan gaji hingga Rp10 juta. Menurut Airlangga, kebijakan tersebut dapat memberikan tambahan sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta bagi buruh, pekerja, atau karyawan yang memenuhi ketentuan.

Baca Juga: Sandiaga Uno Ungkap 3 Tren Ekonomi yang Jadi Peluang Investasi

“Pemerintah terus melihat bagaimana daya beli masyarakat,” kata Airlangga.

Optimisme juga disebut terlihat dari sektor ritel. Airlangga mengungkapkan, dari sekitar 800 merek yang beredar di Indonesia, sekitar 500 di antaranya merupakan merek nasional.

“Jadi sebetulnya dari segi domestik market kita semakin dalam dan semakin kuat,” tuturnya.

Tak hanya toko fisik, aktivitas belanja melalui kanal digital juga disebut masih tumbuh. Airlangga mengatakan pola konsumsi masyarakat kini semakin mengarah pada penggunaan berbagai saluran sekaligus, baik daring maupun luring.

Ia menyebut jumlah penjual online telah mencapai sekitar 800 ribu. Sementara transaksi melalui video commerce telah mencapai sekitar 2,6 miliar transaksi.

“Jadi kalau sekarang trennya (belanja masyarakat) tetap baik, terjadi tentu dual channel atau kita sering sebut sebagai omnichannel di mana video commerce itu berjalan dan trennya malah naik ke 800 ribu (penjual), itu naik hampir 75 persen, dan number of transaction-nya sekitar 2,6 miliar. Ini yang tren positif di Indonesia,” beber Airlangga.

Pemerintah juga terus mendorong digitalisasi pembayaran untuk menopang aktivitas perdagangan, termasuk bagi pelaku UMKM. Salah satu instrumen yang menjadi andalan adalah QRIS.

Airlangga mengatakan pemerintah tengah mendorong agar sistem pembayaran tersebut dapat digunakan lebih luas di negara-negara ASEAN. Saat ini, QRIS disebut telah dapat digunakan di lima negara ASEAN.

“Kita sudah punya payment system yang QRIS yang diharapkan bisa digunakan di seluruh negara ASEAN, kali ini baru di lima negara ASEAN sehingga bagi UMKM kalau menggunakan QRIS mendapatkan keuntungan karena tidak ada dalam tanda petik merchant discount. Jadi biayanya untuk pedagang adalah nol,” katanya.

Menurutnya, perluasan sistem pembayaran digital dapat membantu pedagang menerima transaksi dengan lebih mudah, termasuk dalam aktivitas perdagangan lintas negara.

“Dengan demikian kalau ini bisa menggunakan QRIS untuk payment dan juga bisa digunakan tadi juga untuk ekspor maka tentunya bagi para pedagang bisa difasilitasi dengan digital payment ini,” ujarnya.

Dengan sejumlah indikator tersebut, Airlangga menilai ekonomi Indonesia masih berada di jalur pertumbuhan. Pemerintah pun tetap memantau daya beli masyarakat sambil mendorong konsumsi melalui berbagai insentif dan perluasan aktivitas perdagangan digital.