Meski demikian, Djonny menekankan bahwa cara terbaik menghadapi situasi tersebut bukanlah dengan ikut bermain politik, melainkan membangun reputasi dan rekam jejak yang baik melalui kinerja yang nyata.
"Kedua, bangun reputasi dan track record. Kemudian bisa menjaga integritas, dan jangan terpancing dengan drama. Kita muncul sebagai profil yang memang profesional," katanya.
Menurut Djonny, profesionalisme dapat ditunjukkan melalui konsistensi dalam menjalankan tugas, membangun reputasi positif, serta terus meningkatkan kompetensi dan keterampilan yang dimiliki.
Ia juga meyakini bahwa kompetensi, kemampuan, dan hasil kerja yang baik akan menjadi modal utama untuk menghadapi berbagai dinamika di tempat kerja. Terlebih jika perusahaan memiliki sistem evaluasi yang objektif dan berbasis kinerja.
"Kalau kita punya kompetensi, skill, kinerja yang baik, kalau di dalam perusahaan yang memang punya review, punya evaluasi, sebenarnya kita bisa tunjukkan dengan fakta, dengan data, bahwa ini adalah hasil kinerja kita," ujarnya.
Baca Juga: Bagaimana Cara Leader Hadapi Karyawan yang Tak Bertanggung Jawab?
Lebih lanjut, Djonny menilai pemimpin yang bijak dan berorientasi pada tujuan organisasi pada akhirnya akan mampu membedakan karyawan yang benar-benar bekerja dengan mereka yang hanya mencari keuntungan melalui intrik atau klaim sepihak.
Ia pun kembali mengingatkan agar karyawan tidak terjebak pada praktik-praktik tidak sehat, seperti mengambil kredit atas pekerjaan orang lain atau menyebarkan isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
"Mana yang sekadar istilahnya pengen menjatuhkan orang dengan yang namanya score collector, ngambil performa orang kemudian diklaim menjadi performance hasilnya, dan menjatuhkan orang dengan isu-isu yang memang tidak bisa dibuktikan secara fakta atau secara data," pungkasnya.