Bagi pekerja lepas atau freelancer, tantangan mempersiapkan dana pensiun memang lebih besar karena pendapatan mereka cenderung tidak tetap. Ligwina pun mengakui kondisi tersebut.

"Gue setuju lebih susah. Yang freelancing ini kemungkinan by projects kan, jadi dia gak tahu akan ada masuk uang tanggal berapa dan bulan keberapa," tukasnya.

Untuk mengatasinya, ia menyarankan para freelancer mulai membangun sistem keuangan yang lebih tertata.

Salah satu caranya adalah membentuk badan usaha, seperti CV atau PT, sehingga seluruh pemasukan masuk terlebih dahulu ke rekening usaha, kemudian pemilik usaha menggaji dirinya sendiri secara rutin.

"Kalau ini bisa diinstitusikan jadi CV, jadi PT, jadi uangnya masuk ke dalam usahanya dulu, terus dia terima gajian, jadi lo bisa membuat penghasilannya teratur,” tuturnya,

Dengan pola tersebut, menurut Ligwina, freelancer akan lebih mudah menyusun anggaran bulanan, termasuk menyisihkan dana investasi dan dana pensiun secara konsisten.

Selain itu, Ligwina juga mengingatkan agar masyarakat tidak menggantungkan masa depan finansial pada warisan dari orang tua.

Menurutnya, warisan bukan jaminan seseorang akan hidup berkecukupan jika tidak dibekali kemampuan mengelola keuangan.

"Kalau lo udah tahu cara mengelola uang dan mentrening diri lo untuk regularly tahu cara mengelola uang, begitu warisan datang. Lo gak tahu cara ngelolanya, ilang juga itu, ambles."

Ia pun menegaskan, literasi keuangan merupakan bekal yang jauh lebih berharga daripada sekadar memiliki aset.

Sebab, kemampuan mengelola, mengembangkan, dan mempertahankan kekayaan akan menentukan apakah seseorang benar-benar bisa menikmati masa pensiun yang aman dan sejahtera.

“Jadi, persiapan pensiun bukan soal menunggu kaya, melainkan membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak usia muda,” tandasnya.

Baca Juga: Raditya Dika Beberkan Rahasia Raih Financial Freedom Sebelum Usia 40 Tahun, Mau Coba?