Banyak anak muda masih menganggap dana pensiun sebagai sesuatu yang bisa dipikirkan nanti. Fokus utama mereka umumnya masih berkutat pada kebutuhan jangka pendek, mulai dari mencicil rumah, membeli kendaraan, hingga membangun karier.

Padahal, menurut Financial Trainer sekaligus Founder QM Financial, Ligwina Hananto, masa muda justru merupakan waktu terbaik untuk mulai mempersiapkan masa pensiun.

Ligwina mengakui, pada rentang usia 20 hingga 30 tahun, tantangan finansial memang tidak sedikit. Namun, kondisi tersebut bukan alasan untuk menunda investasi.

"Kenyataannya banyak orang dana pensiun itu bukan sebuah prioritas. Di umur 20–30 kemungkinan dia masih cicilan, rumah baru mau mulai. Jadi kalau umur 20–30, menurut aku persiapan pensiunnya itu harus dilakukan dengan cara lu investasi sekecil mungkin nilai yang lu sanggup ilang," ungkap Ligwina, dikutip dari podcast YouTube @roryasyari - @room.4improvement, Senin (29/6/2026).

Ditegaskan Ligwina, seseorang tidak perlu menunggu memiliki penghasilan besar untuk mulai berinvestasi.

Yang terpenting, kata dia, adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten, meski nominalnya kecil dan berasal dari dana yang memang siap menghadapi risiko investasi.

Selama lebih dari 23 tahun mengedukasi masyarakat tentang keuangan, Ligwina juga melihat masih sangat sedikit perusahaan yang mampu memberikan jaminan dana pensiun yang benar-benar mencukupi kebutuhan karyawan setelah berhenti bekerja.

"Dari 23 tahun pengalaman aku ngajar keliling Indonesia, cuma ada dua perusahaan dan institusi yang bisa menyediakan dana pensiun dengan uang pensiun 60 persen dari penghasilan terakhir,” ujarnya,

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan program pensiun dari tempat bekerja.

Menurutnya, setiap orang perlu membangun aset yang mampu menghasilkan pendapatan ketika sudah tidak lagi aktif bekerja.

Ligwina menyebut ada empat jenis aset produktif yang dapat menjadi sumber penghasilan di masa pensiun, yakni bisnis, properti, surat berharga seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan deposito, serta kekayaan intelektual yang menghasilkan royalti.

Baca Juga: Bukan Sekadar Punya Banyak Uang, Ini Tanda Keuangan Anda Sudah Aman Menurut Financial Planner

Bagi pekerja lepas atau freelancer, tantangan mempersiapkan dana pensiun memang lebih besar karena pendapatan mereka cenderung tidak tetap. Ligwina pun mengakui kondisi tersebut.

"Gue setuju lebih susah. Yang freelancing ini kemungkinan by projects kan, jadi dia gak tahu akan ada masuk uang tanggal berapa dan bulan keberapa," tukasnya.

Untuk mengatasinya, ia menyarankan para freelancer mulai membangun sistem keuangan yang lebih tertata.

Salah satu caranya adalah membentuk badan usaha, seperti CV atau PT, sehingga seluruh pemasukan masuk terlebih dahulu ke rekening usaha, kemudian pemilik usaha menggaji dirinya sendiri secara rutin.

"Kalau ini bisa diinstitusikan jadi CV, jadi PT, jadi uangnya masuk ke dalam usahanya dulu, terus dia terima gajian, jadi lo bisa membuat penghasilannya teratur,” tuturnya,

Dengan pola tersebut, menurut Ligwina, freelancer akan lebih mudah menyusun anggaran bulanan, termasuk menyisihkan dana investasi dan dana pensiun secara konsisten.

Selain itu, Ligwina juga mengingatkan agar masyarakat tidak menggantungkan masa depan finansial pada warisan dari orang tua.

Menurutnya, warisan bukan jaminan seseorang akan hidup berkecukupan jika tidak dibekali kemampuan mengelola keuangan.

"Kalau lo udah tahu cara mengelola uang dan mentrening diri lo untuk regularly tahu cara mengelola uang, begitu warisan datang. Lo gak tahu cara ngelolanya, ilang juga itu, ambles."

Ia pun menegaskan, literasi keuangan merupakan bekal yang jauh lebih berharga daripada sekadar memiliki aset.

Sebab, kemampuan mengelola, mengembangkan, dan mempertahankan kekayaan akan menentukan apakah seseorang benar-benar bisa menikmati masa pensiun yang aman dan sejahtera.

“Jadi, persiapan pensiun bukan soal menunggu kaya, melainkan membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak usia muda,” tandasnya.

Baca Juga: Raditya Dika Beberkan Rahasia Raih Financial Freedom Sebelum Usia 40 Tahun, Mau Coba?