Padahal, orang tua merupakan bagian penting dari sistem pendukung anak. Mereka berhadapan langsung dengan berbagai tantangan, mulai dari proses mengenali kebutuhan anak, mencari bantuan profesional, menghadapi lingkungan sosial, hingga memikirkan masa depan anak.

Karena itu, Chatrine berharap, hasil survei dapat menjadi pintu masuk bagi pembicaraan yang lebih luas mengenai kebutuhan keluarga anak neurodivergent.

“Orang tua tidak sendirian. Di mana pun problemnya sama,” tutur Chatrine.

Pesan Chatrine tersebut menjadi penting mengingat banyak orang tua yang masih merasa kurang mendapatkan dukungan, baik dari lingkungan sekitar maupun keluarga.

Dikatakan Chatrine, perasaan sendirian dalam menjalani proses pendampingan anak dapat membuat perjalanan yang sudah tidak mudah menjadi semakin berat.

Dalam kondisi tersebut, kata dia, membangun support system menjadi salah satu hal yang penting dilakukan. Orang tua juga didorong untuk mencari ruang yang aman dan mendapatkan bantuan dari pihak yang kompeten.

Chatrine juga menuturkan, hasil survei tersebut seharusnya menjadi bahan refleksi bersama.

Kemajuan memang sudah terjadi, tetapi masih terdapat berbagai tantangan yang perlu diselesaikan, mulai dari pemahaman masyarakat, dukungan terhadap orang tua, akses terhadap bantuan profesional, hingga terciptanya lingkungan pendidikan dan sosial yang benar-benar inklusif.

Karena itu, kata dia, suara orang tua tidak seharusnya hanya didengar ketika sebuah survei dilakukan. Suara tersebut perlu menjadi bagian dari diskusi yang lebih besar dalam membangun kebijakan dan sistem dukungan bagi anak neurodivergent dan keluarganya.

“Hopefully bisa menjadi reminding semuanya bahwa PR kita tuh masih banyak,” tandas Chatrine.

Baca Juga: Tak Hanya soal Terapi, Ini Sederet Tantangan Orang Tua Anak Neurodivergent di Indonesia