Perjalanan mendampingi anak neurodivergent tidak hanya membutuhkan dukungan dari keluarga, tenaga profesional, dan sekolah, tetapi juga lingkungan masyarakat yang mampu memahami serta menerima keberagaman cara anak berkembang.

Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang ingin disampaikan Founder Atelier of Minds, Chatrine Siswoyo, setelah melihat hasil survei mengenai pengalaman orang tua anak neurodivergent di Indonesia.

Menurut Chatrine, survei tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kumpulan data mengenai pengalaman para orang tua.

Lebih dari itu, hasil survei diharapkan dapat menjadi pengingat bagi berbagai pihak bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.

“Harapannya survei ini bisa menjadi reminding semuanya, praktis semua stakeholder yang ada di Indonesia, bahwa PR kita tuh masih banyak. Yes, we have made progress, tapi PR kita masih banyak sebagai masyarakat,” tutur Chatrine, saat Media Briefing ‘Suara Orang Tua: Realita Pengasuhan Anak Neurodivergent di Indonesia’, yang digelar di Atelier of Minds, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).

Chatrine menilai, Indonesia telah mengalami kemajuan dalam memahami neurodiversitas. Namun, perjalanan menuju masyarakat yang benar-benar inklusif masih panjang.

Karena itu, kata dia, diperlukan keterlibatan berbagai pihak untuk menciptakan sistem yang dapat mendukung anak neurodivergent sekaligus keluarganya.

“Tugas kita adalah bagaimana caranya kita bisa membuat masyarakat yang lebih inklusif di Indonesia. Ini semoga bisa menjadi bahan diskusi untuk ke depannya,” katanya.

Chatrine memaparkan, salah satu hal penting yang ingin diangkat Atelier of Minds melalui survei tersebut adalah pengalaman orang tua.

Selama ini, kata dia, pembahasan mengenai anak neurodivergent sering kali lebih banyak berangkat dari perspektif tenaga profesional, sementara pengalaman keluarga yang menjalani keseharian bersama anak belum selalu mendapatkan ruang yang sama.

Baca Juga: 76% Orang Tua Sadari Perbedaan Anak Sebelum Diagnosis, Ini Tantangan Keluarga Neurodivergent

Padahal, orang tua merupakan bagian penting dari sistem pendukung anak. Mereka berhadapan langsung dengan berbagai tantangan, mulai dari proses mengenali kebutuhan anak, mencari bantuan profesional, menghadapi lingkungan sosial, hingga memikirkan masa depan anak.

Karena itu, Chatrine berharap, hasil survei dapat menjadi pintu masuk bagi pembicaraan yang lebih luas mengenai kebutuhan keluarga anak neurodivergent.

“Orang tua tidak sendirian. Di mana pun problemnya sama,” tutur Chatrine.

Pesan Chatrine tersebut menjadi penting mengingat banyak orang tua yang masih merasa kurang mendapatkan dukungan, baik dari lingkungan sekitar maupun keluarga.

Dikatakan Chatrine, perasaan sendirian dalam menjalani proses pendampingan anak dapat membuat perjalanan yang sudah tidak mudah menjadi semakin berat.

Dalam kondisi tersebut, kata dia, membangun support system menjadi salah satu hal yang penting dilakukan. Orang tua juga didorong untuk mencari ruang yang aman dan mendapatkan bantuan dari pihak yang kompeten.

Chatrine juga menuturkan, hasil survei tersebut seharusnya menjadi bahan refleksi bersama.

Kemajuan memang sudah terjadi, tetapi masih terdapat berbagai tantangan yang perlu diselesaikan, mulai dari pemahaman masyarakat, dukungan terhadap orang tua, akses terhadap bantuan profesional, hingga terciptanya lingkungan pendidikan dan sosial yang benar-benar inklusif.

Karena itu, kata dia, suara orang tua tidak seharusnya hanya didengar ketika sebuah survei dilakukan. Suara tersebut perlu menjadi bagian dari diskusi yang lebih besar dalam membangun kebijakan dan sistem dukungan bagi anak neurodivergent dan keluarganya.

“Hopefully bisa menjadi reminding semuanya bahwa PR kita tuh masih banyak,” tandas Chatrine.

Baca Juga: Tak Hanya soal Terapi, Ini Sederet Tantangan Orang Tua Anak Neurodivergent di Indonesia