Fenomena boiling frog kerap menjadi ancaman tersendiri bagi sebuah perusahaan atau organisasi, kegagalan memahami perubahan di sekitar menjadi bom waktu yang bisa meluluh lantakan sebuah perusahaan. 

Karenanya seorang pemimpin dituntut peka membaca keadaan, perubahan-perubahan kecil harus bisa disikapi dengan keputusan tepat, apalagi perubahan itu berkenaan dengan struktural perusahaan. 

Baca Juga: Cara Pandang Direktur BCA Kala Hadapi Krisis di Organisasi

Pemimpin yang telat menyadari hal ini atau gagal menangkap sinyal perubahan itu bakal tersungkur bersama organisasi yang ia pimpin.

“Jadi kita harus siap mengantisipasi ini,”kata 

Direktur BCA, Haryanto T Budiman dilansir Olenka.id Kamis (8/1/2026). 

Kesiapan organisasi menghadapi perubahan yang terjadi tidak bisa dilakukan pada jajaran atas saja, tetapi ini menjadi pekerjaan kolektif yang mesti dihadapi bareng-bareng. Maka seorang pemimpin harus bisa menanamkan kepercayaan kepada bawahannya. 

Ketika jajaran bawah sudah tak sudi menaruh kepercayaan kepada pemimpinnya, maka segala upaya untuk menghadapi boiling frog bisa saja terkendala, ini menjadi ancaman tersendiri sebab risiko besar sudah menunggu di depan. 

“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa meyakinkan anak buahnya. Guys, kita harus berubah,” ujarnya. 

“Jangan sampai hanya bosnya aja yang bilang kita harus berubah, tapi di bawah nggak ada yang percaya,” tambahnya. 

Fenomena perubahaan adalah hal lazim dalam sebuah organisasi, tetapi perubahaan yang bersifat struktural menjadi yang paling berbahaya dan beresiko tinggi. 

Baca Juga: Bos BCA: Kesuksesan Tidak Selalu Soal Harta Kekayaan tapi Masa Tua Tanpa Beban Penyesalan Masa Lampau

“Kalau sifatnya siklikal, kita nggak khawatir. Dunia bisnis kan ada siklusnya, ada naik, ada turun. Kita nggak khawatir. Tapi kalau sifatnya struktural, hati-hati. Dan ini harus diterima oleh seluruh jajaran organisasi,” tuntasnya.