Ketegangan geopolitik global terus meningkat dalam beberapa hari terakhir ini imbas perang Iran, Amerika Serikat (AS) dan Israel yang telah berlangsung selama lebih dari dua pekan. Banyak pihak yang memprediksi perang tiga negara itu bakal mengguncang pada ekonomi global seiring naiknya harga minyak dunia. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, imbas perang itu masih belum signifikan terhadap perekonomian Indonesia. 

Baca Juga: Prabowo Panggil Luhut Cs Bahas Mitigasi Dampak Perang Iran

Dia bilang  fundamental ekonomi kita masih berada dalam posisi yang kuat. Sejumlah indikator utama ekonomi domestik masih stabil karena didukung tingginya permintaan domestik, stabilitas sektor eksternal, serta koordinasi yang solid antara kebijakan fiskal dan moneter. 

Airlangga menjelaskan konsumsi domestik masih menjadi pendorong utama perekonomian Indonesia. Saat ini, kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai sekitar 54% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Selain itu, aktivitas belanja masyarakat juga masih terjaga. Hal ini terlihat dari Mandiri Spending Index pada Februari 2026 tercatat mencapai 360,7.

“Kita punya konsumsi domestik itu masih kuat, masih 54% dari PDB, dan Mandiri Spending Index juga 360,7, itu tinggi,” kata  Airlangga dilansir Selasa (17/3/2026). 

Dari sisi eksternal, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih relatif aman. Rasio utang luar negeri Indonesia tercatat sekitar 29,9% terhadap PDB. Selain itu, cadangan devisa nasional juga berada pada level yang cukup kuat, yakni mencapai 151,9 miliar dolar AS. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan sekitar enam bulan impor.

Kondisi ini menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menjaga stabilitas sektor eksternal di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kinerja sektor riil juga menunjukkan tren positif.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia Februari 2026 berada pada level 53,8. Angka tersebut menandakan sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi karena berada di atas batas netral 50.

Selain itu, sektor pangan dan energi juga memberikan kontribusi positif terhadap ketahanan ekonomi nasional. Produksi beras nasional pada 2025 tercatat mencapai 34,7 juta ton atau meningkat 13,54% secara tahunan. Indonesia juga mencatat surplus produksi solar sekitar 4,84 juta kiloliter.

Pemerintah juga memanfaatkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebagai shock absorber untuk meredam dampak ketidakpastian global.

Sejumlah program dukungan ekonomi tetap dijalankan, antara lain bantuan pangan senilai Rp 11,92 triliun, penyaluran tunjangan hari raya (THR) bagi ASN, TNI, dan Polri, serta subsidi dan kompensasi energi. Data pemerintah menunjukkan hingga Februari 2026, pendapatan negara telah mencapai Rp 358 triliun atau sekitar 12,8% dari target APBN.

Sementara itu, belanja negara tercatat sebesar Rp 493,8 triliun atau sekitar 41,9% dari pagu APBN. Dengan demikian, defisit anggaran berada pada kisaran Rp 135,7 triliun atau sekitar 0,53% terhadap PDB.

Dengan berbagai indikator tersebut, Airlangga optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 dapat mencapai sekitar 5,5%. Menurutnya, capaian tersebut berpotensi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV tahun sebelumnya.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Turun Imbas Perang Iran, Pemerintah Tak Mau Buru-buru Ubah Asumsi APBN

“Dengan angka-angka ini kami optimis pertumbuhan pada kuartal pertama bisa lebih tinggi dari kuartal keempat tahun lalu. Jadi cukup optimistis pertumbuhan bisa di sekitar 5,5%,” pungkas Airlangga.