1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) terdiri dari 270 hari kehamilan ditambah 730 hari pertama kehidupan anak. 1.000 HPK bukan sekadar hitungan waktu, melainkan masa emas yang menentukan kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas anak hingga dewasa. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menjamin keselamatan ibu dan kualitas hidup anak pada periode ini.
”Kita harus mengejar angka yang signifikan karena ini menyangkut nyawa manusia, bukan sekadar statistik: Kematian Ibu: Menurunkan dari 4.000 menjadi di bawah 400 kasus. Kematian Bayi: Menurunkan dari 30.000 menjadi di bawah 3.000 kasus. Prevalensi Stunting: Menurunkan dari 19% ke bawah 7%dalam satu tahun ke depan,” ujar Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI dalam keterangannya.
Baca Juga: Kesadaran Komunal sebagai Langkah Preventif Kesehatan
Berbagai indikator menunjukkan tantangan kesehatan ibu dan anak yang masih signifikan di Indonesia. Angka Kematian Ibu (AKI) tercatat 140 per 100.000 kelahiran hidup (UN-ICME, 2023), sementara kematian bayi mencapai 17 per 1.000 kelahiran hidup (UN-ICME, 2023), dengan lebih dari separuh terjadi pada masa neonatal.
Di saat yang sama, 19,8% balita mengalami stunting (SSGI, 2024) dan 2,52% berisiko mengalami gangguan perkembangan (Komdat, 2025). Data ini menegaskan urgensi penguatan intervensi sejak dini, khususnya pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Baca Juga: Hati-hati, Kenali 4 Ciri Jajanan yang Mengancam Kesehatan Si Kecil!
Selama ini, upaya lintas sektor dalam 1.000 HPK masih berjalan terpisah dan belum terintegrasi sehingga dampaknya belum maksimal bagi kesehatan nasional. Fragmentasi program, tumpang tindih intervensi, dan lemahnya integrasi data menjadi tantangan utama. Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan RI meluncurkan Konsorsium 1.000 HPK sebagai platform koordinasi nasional yang menyatukan pemerintah, mitra internasional, sektor swasta, akademisi, dan organisasi masyarkat sipil (CSO) dalam satu arah, satu sistem pemantauan, serta satu akuntabilitas bersama.
Dalam pelaksanaannya, Kementerian Kesehatan didukung Yayasan Rabu Biru Indonesia (Rabu Biru Foundation) sebagai Sekretariat Konsorsium 1.000 HPK. Sekretariat ini bertugas sebagai motor penggerak untuk:
- Mengintegrasikan berbagai inisiatif lintas sektor ke dalam satu sistem pemantauan dan akuntabilitas bersama.
- Mengelola koordinasi operasional di empat Kelompok Kerja (Pokja) yang mencakup seluruh siklus 1.000 HPK, mulai dari kesehatan sebelum hamil hingga fasilitas pelayanan kesehatan.
- Memastikan kontribusi para mitra, baik swasta, akademisi, maupun CSO, tetap selaras dengan target RPJMN 2025–2029 dan berorientasi pada pencapaian Indonesia Emas 2045.
“Sebagai Sekertariat Konsorsium, Rabu Biru Foundation berkomitmen mendukung Kementerian Kesehatan dalam mensinergikan koordinasi lintas sektor agar berjalan satu arah dan terukur di setiap tahapan 1000 HPK, ” ujar Direktur Eksekutif RBF, Toro Sudarmadi.
Komitmen tersebut menjadi fondasi penting peluncuran Konsorsium Nasional 1.000 HPK menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak, sekaligus memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan awal kehidupan yang optimal.