Namun, kata dr. Mesty, tantangan tidak berhenti di situ. Saat memasuki fase MPASI, banyak orang tua tanpa sadar memperkenalkan rasa yang kurang tepat sebagai langkah awal.

Menurut dr. Mesty, rasa manis sering menjadi pilihan karena dianggap paling mudah diterima anak. Padahal, kebiasaan ini justru dapat memengaruhi preferensi makan mereka ke depannya.

“Ketika mulai MPASI, banyak orang tua yang langsung mengenalkan makanan yang manis. Memang rasa manis itu something yang comfortable gitu ya buat anak, sehingga ketika dikasih menu yang gurih, misalnya bubur ati ayam, itu cenderung udah gak mau,” papar dr. Mesty.

Ketika anak sudah terbiasa dengan rasa manis, kata dr. Mesty, makanan bergizi dengan rasa gurih atau alami menjadi kurang menarik bagi mereka. Akibatnya, orang tua sering kesulitan memperkenalkan variasi makanan yang sebenarnya penting untuk tumbuh kembang.

dr. Mesty melanjutkan, kasalahan lain muncul ketika anak terlalu dini diperkenalkan pada makanan ringan dengan tekstur dan rasa yang kuat. Kebiasaan ini bisa berdampak pada kemampuan anak menerima tekstur makanan yang sesuai tahap usianya.

“Atau misalnya dikasih makanan-makanan snack kayak crackers, kripik, kerupuk gitu yang akhirnya ke tekstur yang bubur juga udah sulit,” jelasnya.

Baca Juga: Profil Mesty Ariotedjo, Dokter Anak yang Juga Penggerak Edukasi Parenting di Era Digital