Pembina Dompet Dhuafa, Yudi Latif disela-sela acara menuturkan soal kemandirian bangsa Indonesia yang dinilainya masih menghadapi tantangan serius, mulai dari pendidikan, politik, hingga pengelolaan sumber daya alam. Selain hal tersebut salah satu persoalan mendasar bangsa Indonesia adalah rendahnya kepercayaan dan kesadaran terhadap kemampuan diri sendiri.
Sementara, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc., menegaskan pentingnya penyaluran zakat produktif untuk memicu pemerataan pendidikan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.
Agustino mengungkapkan bahwa penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara terukur memiliki daya dorong nyata dalam memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Penyeleksian beasiswa yang ketat memprioritaskan generasi muda kurang mampu namun berprestasi tinggi agar mampu menempuh jenjang akademik tertinggi.
Baca Juga: Dompet Dhuafa Luncurkan BesTeam, Ajak Masyarakat Jadi Sahabat Anak Yatim
Mulyadi Saputra menambahkan jika perubahan berkelanjutan lahir dari masyarakat berdaya. Sebab itu lah, Dompet Dhuafa terus mendorong model pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek perubahan. Kongres Kemandirian menjadi bagian dari ikhtiar memperluas kolaborasi dan memperkuat gerakan kemandirian di berbagai wilayah.
Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa menjadi penegasan bahwa kemandirian merupakan proses yang dibangun bersama dan diharapkan menjadi ruang strategis yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun gagasan, memperkuat kolaborasi, dan merumuskan langkah nyata menjawab tantangan kemandirian bangsa.
Dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang dikelola secara produktif, Dompet Dhuafa terus berikhtiar menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas serta mendorong lahirnya masyarakat yang berdaya dan berkelanjutan.