Olahraga lari memang dikenal sebagai salah satu aktivitas fisik yang menyehatkan jantung. Namun, bagi penderita hipertensi, lari tidak boleh dilakukan sembarangan, terutama ketika tekanan darah belum terkontrol dengan baik.

Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi di RS Hermina Depok, dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K), menjelaskan bahwa hipertensi merupakan kondisi ketika tekanan darah berada di atas 140/90 mmHg.

Karena itu, tekanan darah idealnya dikendalikan hingga berada di bawah angka 130/80 mmHg.

“Hipertensi itu jika tensi di atas 140/90 mmHg. Kalau bisa, tensi kita itu usahakan di bawah 130/80 mmHg, baik dengan gaya hidup sehat atau obat,” ungkap dr. Bobby, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (1/9/2026).

Menurut dr. Bobby, penderita hipertensi tidak dianjurkan langsung mengikuti aktivitas lari, khususnya lari jarak jauh atau long run, sebelum tekanan darahnya benar-benar terkontrol.

Hal ini karena saat berlari, jantung akan bekerja lebih cepat sehingga tekanan darah juga dapat meningkat dibandingkan kondisi saat tubuh sedang beristirahat.

“Ingat, untuk teman-teman yang hipertensi tidak dianjurkan untuk lari sebelum tensinya terkontrol dengan baik. Tensi ini maksudnya tekanan darah, ya, karena pada saat kita lari, jantung bekerja lebih cepat, tekanan darah pasti akan lebih tinggi daripada biasanya,” jelasnya.

Dr. Bobby mencontohkan, seseorang yang memiliki tekanan darah sekitar 150 mmHg sebelum berlari berpotensi mengalami peningkatan tekanan darah yang jauh lebih tinggi setelah melakukan aktivitas tersebut.

“Kalau kalian menderita hipertensi, lari, maka tensinya mungkin awalnya 150, setelah lari bisa jadi 180, 190. Nah, apalagi kalau long run, ini bahaya,” katanya.

Baca Juga: Anak Muda Makin Banyak Alami Hipertensi, Dokter Tirta Ungkap Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena tekanan darah yang mencapai lebih dari 180/120 mmHg dapat masuk ke kondisi krisis hipertensi.

Pada kondisi ini, lanjut dr.Bobby, risiko gangguan kesehatan serius dapat meningkat dan membutuhkan perhatian medis segera.

“Kalau tensi di atas 180 per 120, ini disebut dengan krisis hipertensi. Tiba-tiba bisa jadi timbul gagal jantung akut, gagal ginjal akut, gangguan irama jantung,” ungkap dr. Bobby.

Meski demikian, bukan berarti penderita hipertensi tidak boleh berolahraga. Justru, aktivitas fisik tetap penting sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Namun, sebelum meningkatkan intensitas olahraga, tekanan darah harus dikendalikan terlebih dahulu.

Dr. Bobby menyarankan, penderita hipertensi untuk menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter serta menerapkan pola hidup sehat hingga tekanan darah berada dalam kondisi terkontrol.

Setelah itu, olahraga dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi tubuh dan berkonsultasi dengan dokter.

“Jadi ingat, teman-teman yang masih hipertensi, kontrol dulu tensinya, minum obat. Kalau sudah terkontrol dengan baik silakan olahraga, tapi tetap dengan pengawasan, konsul dengan dokternya langsung, ya,” pungkasnya.

Baca Juga: Benarkah Kurangi Garam Bisa Cegah Hipertensi? Begini Penjelasan Dokter Spesialis Gizi