Growthmates, kesehatan pencernaan anak ternyata memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar membantu proses makan dan buang air. Kondisi saluran cerna juga berkaitan erat dengan kualitas tidur, suasana hati, pola makan, hingga tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Dokter Spesialis Anak, dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, M.Kes, menjelaskan bahwa saluran pencernaan dan otak memiliki hubungan yang sangat erat. Karena itu, gangguan pada sistem pencernaan dapat memengaruhi berbagai aspek perkembangan anak.

“Kalau saluran pencernaan anak mengalami gangguan, efeknya bisa ke mana-mana. Bisa memengaruhi mood sehingga anak menjadi lebih rewel, lebih mudah menangis, lebih sering minta digendong. Selain itu juga bisa berdampak pada perkembangan otak, nafsu makan, hingga kualitas tidur anak,” tutur dr. Miza, saat press conference LACTOGROW Digestion Expert Lab, di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Salah satu dampak yang paling sering terjadi adalah terganggunya kualitas tidur. Anak yang mengalami ketidaknyamanan pada perut, seperti kembung atau begah, cenderung lebih sering terbangun pada malam hari. Padahal, kata dr. Miza, tidur yang berkualitas merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.

“Kalau tidur tidak berkualitas, dampaknya bisa sangat luas terhadap proses tumbuh kembang anak,” katanya.

Pengalaman tersebut pernah dirasakan langsung oleh penyanyi sekaligus ibu muda, Anggi Marito saat putrinya, Gemma Felicya Lourdes Ganessha atau yang akrab disapa Butet, mengalami gangguan pencernaan sejak usia dini.

Dikatakan Anggi, kondisi perut yang sering kembung membuat sang anak sulit tidur nyenyak dan berdampak pada aktivitas sehari-harinya.

“Dulu Butet langganan perut kembung. Malam bisa bangun terus, tiga kali, empat kali, bahkan sampai delapan kali. Ternyata penyebabnya karena perutnya kembung,” ungkap Anggi.

Tak hanya mengganggu waktu istirahat, masalah pencernaan tersebut juga memengaruhi pola makan Butet. Menurut Anggi, kondisi kembung kerap berujung pada gerakan tutup mulut (GTM), yang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi orang tua.

Seiring bertambahnya informasi yang diperoleh melalui berbagai sumber dan konsultasi dengan tenaga kesehatan, Anggi mulai memahami bahwa berbagai gejala yang sering dianggap terpisah ternyata memiliki keterkaitan dengan kondisi pencernaan anak.

“Aku jadi lebih aware karena ternyata GTM, rewel, dan kualitas tidur anak itu memang berhubungan langsung dengan pencernaan,” ujarnya.

Kemudian, dr. Miza melanjutkan, masalah pencernaan pada anak bukanlah kondisi yang jarang ditemukan. Ia mengatakan bahwa sekitar satu dari empat anak mengalami gangguan pencernaan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Kondisi ini, kata dia, perlu mendapat perhatian karena saluran cerna merupakan tempat utama penyerapan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan berkembang.

“Kalau saluran pencernaan bermasalah, penyerapan gizinya bisa menjadi tidak maksimal. Akhirnya orang tua merasa anak sudah makan cukup banyak, tetapi pertumbuhannya tidak sesuai harapan karena nutrisinya tidak terserap dengan baik,” jelasnya.

dr. Miza menambahkan, gangguan pencernaan tidak selalu muncul dalam bentuk penyakit yang mudah dikenali. Dalam banyak kasus, anak tampak sehat, namun terjadi ketidakseimbangan mikrobiota atau bakteri dalam saluran pencernaannya.

“Tubuh manusia membutuhkan bakteri baik agar seluruh sistem berjalan optimal. Ketika keseimbangan antara bakteri baik dan bakteri tidak baik terganggu, berbagai gangguan pencernaan bisa muncul,” kata dr. Miza.

Untuk menjaga keseimbangan tersebut, peran prebiotik dan probiotik menjadi sangat penting. Keduanya memiliki fungsi berbeda, namun saling melengkapi dalam mendukung kesehatan saluran cerna.

Dan, salah satu probiotik yang banyak diteliti secara ilmiah adalah Lactobacillus reuteri atau L. reuteri. Menurut Dr. Miza, bakteri baik ini telah dikenal sejak awal kehidupan manusia dan memiliki berbagai manfaat yang didukung oleh penelitian.

“Lactobacillus reuteri merupakan salah satu probiotik pertama yang terekspos pada manusia, mulai dari dalam kandungan hingga setelah lahir. Karena itu, penelitian terhadap L. reuteri sangat banyak dan manfaatnya sudah didukung oleh berbagai studi ilmiah,” ujar dr. Miza.

Baca Juga: Bermain Bersama Anak Jadi Momen Penting Si Kecil Belajar, LACTOGROW Galakkan Kampanye 'Main Jangan Main-Main'