Konstipasi atau sembelit merupakan gangguan pencernaan yang sering terjadi pada anak, sekitar 29,6% anak di dunia pernah mengalaminya.Begitupun di Indonesia, 1 dari 3 anak toddler mengalami konstipasi. Dari seluruh kasus anak yang dirujuk dengan konstipasi ini, 95% kasus merupakan konstipasi fungsional.

Mengutip data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Konstipasi dapat menyebabkan 3% kunjungan pasien ke dokter anak umum dan 15-25% kunjungan ke konsultan gastroenterologi anak. Sebagian besar konstipasi pada anak dalah fungsional yang bila dilakukan pemeriksaan lebih lanjut biasanya tidak ditemukan kelainan organik, 40% diantaranya diawali sejak usia satu sampai empat tahun.

Baca Juga: Bebelac Hadirkan AI Tracker, Pantau Kesehatan Pencernaan Anak untuk Cegah Konstipasi

dr. Ezy Barnita Sp.A(K), Dokter Anak Konsultan Gastrohepatologi mengungkapkan, kurangnya asupan serat prebiotik pada anak hal ini akan membuat feses yang dihasilkan oleh saluran pencernaan menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan oleh tubuh. Sekitar 9 dari 10 anak tidak mampu memenuhi asupan serat prebiotik hariannya. Orang tua sering mengasumsikan kalau konstipasi akan menghilang dengan sendirinya. 

“Menurut studi, prevalensi pada konstipasi tidak berkurang secara signifikan seiring beranjak dewasa. Banyak anak-anak yang masih mengalami konstipasi hingga remaja dan dewasa. Sekitar 43% anak mengalaminya selama lebih dari 5 tahun. Sementara itu, 26% dewasa muda mengalami konstipasi sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu penting mencukupi asupan harian serat prebiotik si Kecil agar kesehatan pencernaannya terjaga dan mencegahnya dari masalah gangguan pencernaan,” ungkap dr. Ezy beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Kenapa Saluran Pencernaan Anak Sangat Sensitif di Tahun Pertama Kehidupan? Ini Penjelasan Dokter

dr. Ezy telah memberikan beberapa tips mengenai Konstipasi atau sembelit dalam keterangan resmi “Constipation Awareness Month 2024”. Untuk mengetahui lebih lanjut gejala dan langkah awal mencegah konstipasi sebagai berikut:

Gejala yang Terjadi

Terjadinya konstipasi pada anak-anak menjadi suatu hal yang tidak dapat dianggap sepele. Saat awal keluhan konstipasi menimbulkan gejala seperti sakit perut, kemudian anak akan menolak untuk makan, terkadang tidur juga terganggu karena anak lapar, selain itu anak akan menjadi lebih rewel dari biasanya. 

Apabila dibiarkan, kondisi ini dapat memicu perubahan perilaku seperti mudah tersinggung, agresif, kasar, bahkan tantrum akibat anak tidak lancar buang air besar. Masalah ini juga dapat menyebabkan gejala fisik seperti kelesuan serta nafsu makan yang buruk pada anak.

Baca Juga: Kebiasaan Makan Anak Terlanjur Gak Baik untuk Sistem Pencernaannya? Dokter Sarankan Begini!

Jika terus berlanjut, masalah konstipasi pada anak dapat menghambat dan mempengaruhi tumbuh kembang Si Kecil. Maka dari itu, hal inilah yang perlu diperhatikan apa saja penyebab terjadinya konstipasi pada anak.

Penyebab Konstipasi

Masalah konstipasi yang dialami oleh Si Kecil disebabkan oleh banyak faktor, seperti pergerakan ususnya yang lambat, perubahan pola makan, yaitu kurangnya serat dalam makanan seperti terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan, makanan cepat saji atu bahkan makanan manis.

Kemudian, seringnya menunda buang air besar saat sedang bermain, sengaja menahan buang air besar (holding-on behavior) karena memiliki pengalaman buruk pada saat proses toilet training dan perubahan lingkungan toilet atau takut menggunakan toilet umum, lau seringnya penggunaan obat-obatan juga dapat memicu terjadinya konstipasi.

Cara Pencegahan

Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya konstipasi antara lain dengan memberikan banyak asupan serat prebiotik yang cukup dan monitor pup si Kecil setiap hari. Monitoring pup si Kecil secara rutin akan membuat orang tua menyadari saat ada gejala mendekati konstipasi, misalnya tekstur pupnya mulai keras meskipun masih BAB rutin, atau BAB mulai jarang meskipun tekstur pupnya masih lunak.

Perkembangan saluran cerna yang sehat sejak dini sangat penting bagi kesehatan holistik (tumbuh kembang optimal). Asupan nutrisi yang adekuat merupakan faktor kunci dalam membentuk dan mempertahankan ekosistem mikroba usus yang seimbang, khususnya kebutuhan serat prebiotik.

Prebiotik berperan dalam mendukung pertumbuhan dan aktivitas mikrobiota usus (bakteri baik), yang kemudian dapat memberikan dampak positif pada perbaikan konsistensi feses, jumlah waktu buang air besar, dan kembung.

Baca Juga: Tahukah Kamu? Pencernaan Sehat, Ternyata Dukung Perkembangan Sosial-Emosional si Kecil Agar Tumbuh Jadi Anak Hebat

Untuk mendukung pencernaan selalu sehat dan terbebas dari gangguan pencernaan seperti sembelit atau konstipasi, salah satunya bisa dilakukan dengan pemberian pola makan bergizi seimbang dengan serat prebiotik yang cukup.

Selain dari makanan alami seperti buah-buahan, sayur-mayur, kacang-kacangan, serta beberapa jenis sayuran akar seperti umbi-umbian dan wortel, prebiotik juga bisa diperoleh dari susu pertumbuhan yang terfortifikasi khusus dengan rasio probiotik yang tepat. Salah satu serat prebiotik yang sudah teruji klinis untuk mendukung kesehatan pencernaan adalah FOS:GOS 1:9.

Konstipasi pada anak adalah masalah pencernaan yang sering terjadi, tetapi dapat dicegah dan diatasi dengan pendekatan yang tepat. Dengan memperhatikan pola makan, kebiasaan, dan aktivitas fisik anak, serta memastikan mereka mendapatkan cukup cairan, orang tua dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan anak dan mencegah konstipasi. Jika gejala konstipasi berlanjut atau memburuk, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.