Kisah masa kecil Elon Musk memang mudah membuat orang menyimpulkan bahwa salah satu kunci kesuksesan adalah membaca sebanyak mungkin. Namun, ada pelajaran yang lebih menarik dari cerita Maye.

Persoalannya bukan sekadar berapa banyak buku yang dibaca seorang anak, melainkan apakah anak tersebut menemukan alasan untuk ingin membaca.

Elon tidak membaca karena buku dijadikan pekerjaan rumah. Ia membaca karena tertarik dan ingin mengetahui apa yang ada di dalamnya. Rasa penasaran itulah yang membuatnya rela menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan sampai larut malam.

Karena itu, orang tua tidak selalu perlu menjadikan membaca sebagai kewajiban yang harus diselesaikan setiap hari. Anak yang dipaksa membaca selama 20 menit mungkin berhasil menyelesaikan beberapa halaman, tetapi belum tentu menikmati aktivitas tersebut.

Sebaliknya, anak yang diberi kebebasan memilih buku tentang dinosaurus, luar angkasa, sepak bola, hewan, mesin, mitologi, komik, atau fiksi ilmiah bisa menemukan pengalaman membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Yang terpenting bukan selalu buku apa yang dibaca, melainkan apakah buku tersebut membuat anak ingin membuka halaman berikutnya.

Nah Growthmates, kegemaran membaca Elon Musk ketika kecil tentu tidak bisa dijadikan formula pasti untuk menghasilkan orang dewasa sukses. Membaca bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan seseorang.

Namun, kisah Maye memberikan gambaran menarik tentang seorang anak yang sejak kecil memiliki rasa ingin tahu kuat dan menemukan buku sebagai ruang untuk memuaskan rasa penasaran tersebut.

Baca Juga: Elon Musk Ungkap 5 Buku Terbaik yang Menginspirasinya Membangun SpaceX dan Tesla