Pemerintah Amerika Serikat segera menggelar sidang untuk Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada hari ini, Senin (5/1/2026) setelah yang bersangkutan ditangkap pasukan elite AS Delta Force Amerika Serikat atas perintah Presiden Donald Trump akhir pekan lalu. Maduro ditangkap bareng istrinya Cilia Flores.
Rencananya sidang perdana mengadili Maduro yang dihelat hari ini bakal digelar di Pengadilan Manhattan New York. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat juga mengajukan dakwaan ke istrinya Cilia Flores di Pengadilan Distrik Selatan New York.
Sejauh ini pemerintahan Donald Trump telah mengajukan sederet dakwaan untuk pria 63 tahun tersebut, setidaknya sudah ada empat dakwaan yang dirilis pemerintah AS. Salah satu dakwaan yang ditujukan kepada Maduro adalah konspirasi terorisme narkoba. Maduro dituding sebagai dalang impor kokain ke berbagai negara, tak hanya itu Pemerintah AS juga mengeklaim yang bersangkutan memiliki dan menggunakan senapan mesin dan alat peledak.
Dakwaan ini dirilis pemerintahan AS pada 2020 lalu atau awal pemerintahan Donald Trump.
"Nicolas Maduro didakwa dengan konspirasi Narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senjata api dan perangkat destruktif lain, dan konspirasi untuk menggunakan senjata mesin dan perangkat destruktif terhadap Amerika Serikat," kata Jaksa Agung AS Pamela Bondi dilansir Senin (5/1/2026).
AS menculik Maduro dan Flores pada Sabtu. Sebelum operasi ini dilakukan, pasukan Negeri Paman Sam terlebih dahulu menggempur habis-habisan ibu kota Venezuela, Caracas. Setelah misi itu, Trump dengan bangga mengumumkan AS berhasil menyerang Venezuela.
"Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya," kata Trump di media sosialnya.
Di kesempatan terpisah, Trump kemudian mengumumkan AS akan memimpin Venezuela dan menguasai sumber daya minyak.
Trump dan Maduro berselisih sejak di periode pemerintahan pertama politikus Republik itu. Namun, hubungan kedua negara kembali meruncing sejak September tahun lalu, periode kedua Trump.
Kala itu, pasukan AS menggempur kapal yang mengangkut warga sipil di perairan lepas Venezuela dengan dalih membawa narkoba. Serangan ke kapal di sekitar wilayah itu terus terjadi hingga berbulan-bulan.
Baca Juga: Sukses Tekan Tarif Trump, Pemerintah Kini Dorong Sawit Hingga Kopi Bebas Tarif Impor AS
AS juga sempat mengerahkan pasukan dan persenjataan di dekat perbatasan Karibia. Melihat serangkaian tindakan AS itu, pemerintahan Maduro meyakini niat mereka adalah menggulingkan kekuasaan dan menguasai sumber daya.