Guru Besar Kepemimpinan Bisnis di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Donald Crestofel Lantu, mengatakan bahwa salah satu tantangan utama seorang leader adalah menentukan gaya kepemimpinan yang paling sesuai dengan kebutuhan organisasi.
"Kita bisa melihat bahwa ada pemimpin yang ditakuti dan ada pemimpin yang dicintai. Ini berkaitan dengan personality dari pemimpinnya lebih mengarah seperti apa," ungkap Donald dalam wawancara bersama Olenka beberapa waktu lalu, dikutip pada Selasa (7/7/2026).
Baca Juga: Kenapa Gen Z Tak Ambil Pusing Ketika Melakukan Kesalahan?
Donald Lantu menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua pendekatan kepemimpinan yang kerap menjadi pilihan yakni pemimpin yang lebih berorientasi pada kinerja sehingga cenderung ditakuti serta pemimpin yang mengedepankan relasi sehingga lebih dicintai oleh anggota tim.
"Tentu (penting) balancing antara membangun relasi yang berarti dicintai dan membangun kinerja yang sering kali dalam organisasi itu mengarah ke yang ditakuti," lanjutnya.
Baca Juga: Kenapa Pemimpin di Indonesia Tidak Punya Budaya Mundur dan Malu saat Melakukan Kesalahan?
Ia menerangkan gaya pemimpin yang berfokus pada kinerja umumnya mampu mendorong pertumbuhan perusahaan secara lebih cepat. Meski demikian, gaya ini memberi konsekuensi anggota tim tidak terlalu nyaman bekerja di perusahaan tersebut.
Sebaliknya, gaya kepemimpinan yang lebih mengedepankan relasi cenderung menciptakan lingkungan kerja yang harmonis namun dengan pertumbuhan perusahaan lebih lambat.
"Ada perusahaan yang berusaha untuk mengembangkan orang dengan membangun relasi, tapi kemudian perkembangan perusahaan menjadi lebih lambat," tegasnya lagi.