Upaya memperkuat pemahaman generasi muda terhadap industri kelapa sawit terus dilakukan melalui pendekatan akademik dan dialog terbuka. PT Hai Sawit Indonesia bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar Sawit Academy EPS. USU di Universitas Sumatera Utara (USU), menghadirkan mahasiswa, akademisi, dan praktisi industri dalam diskusi komprehensif mengenai peran sawit dalam kehidupan sehari-hari.

Mengusung tema “Sawit di Dalam Kehidupan: Mengajak Generasi Muda Memahami Peran Sawit dalam Keseharian”, kegiatan ini dirancang sebagai forum edukatif dan partisipatif untuk membangun literasi sawit berbasis data serta perspektif ilmiah di kalangan mahasiswa.

Baca Juga: Menatap Masa Depan Sawit Indonesia: BPDP Targetkan Peningkatan Produktivitas Perkebunan

Direktur PT Hai Sawit Indonesia, M. Danang Mursyid Rijalul Qowi, menegaskan pentingnya literasi sawit agar generasi muda memiliki sudut pandang yang objektif terhadap komoditas strategis tersebut.

“Sawit bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Mulai dari produk pangan, kosmetik, hingga energi terbarukan, sawit hadir di sekitar kita. Melalui Sawit Academy, kami ingin menghadirkan ruang dialog berbasis data agar lahir generasi muda yang kritis sekaligus solutif terhadap isu-isu sawit,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan pihak kampus. Dekan Fakultas Pertanian USU, Prof. Dr. Ir. Tavi Supriana, MS, menilai kolaborasi antara dunia akademik dan industri penting untuk membentuk cara pandang ilmiah mahasiswa.

“Kampus memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang ilmiah terhadap suatu isu, termasuk sawit. Diskusi konstruktif berbasis akademik seperti ini membantu mahasiswa memahami sawit secara komprehensif dari hulu hingga hilir,” katanya.

Baca Juga: Hashim Jamin Prabowo Tidak Punya Lahan Sawit di Sumatera

Rangkaian acara diisi lima sesi utama yang membahas beragam perspektif, mulai dari pelurusan isu sawit berbasis data, pandangan akademik, peran mahasiswa dalam literasi sawit, kontribusi produk turunan sawit di sektor kesehatan, hingga peluang karier melalui platform Hai Sawit.

Praktisi perkebunan Ahmad Taufan Hidayat menyoroti kedekatan sawit dengan kehidupan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa produk turunan sawit tidak hanya berupa minyak goreng, tetapi juga terdapat dalam sabun, sampo, pasta gigi, kosmetik, deterjen, hingga berbagai produk makanan seperti mie instan, biskuit, dan cokelat. Selain itu, turunan sawit juga dimanfaatkan dalam sektor kesehatan melalui kandungan vitamin E alami (tocotrienol) serta dalam program biodiesel nasional.

Ia juga menekankan posisi strategis Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan kontribusi lebih dari 50 persen produksi global. Industri ini tersebar di puluhan provinsi dan menyerap jutaan tenaga kerja, sehingga menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional. Meski tantangan tetap ada, pengelolaan berkelanjutan melalui standar sertifikasi seperti ISPO dan RSPO terus diperkuat.

Baca Juga: Perkuat Akses Pendidikan, BPDP Gelar Sosialisasi Program Beasiswa Sawit di Manggarai Barat

Dari sisi akademik, dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian USU, Nursa’adah, mengajak mahasiswa memahami sawit secara komprehensif melalui pendekatan ilmiah berbasis data. Ia menekankan pentingnya membaca informasi secara utuh, termasuk terkait isu lingkungan seperti deforestasi, sebelum membentuk opini.

Perspektif mahasiswa juga hadir melalui pemaparan Enjel Silvia yang menyoroti kontribusi ekonomi sawit, termasuk peningkatan nilai ekspor Indonesia dari sekitar US$1 miliar pada tahun 2000 menjadi sekitar US$31 miliar pada 2023.

Namun, ia menekankan bahwa literasi harus dibarengi sikap kritis, mengingat hubungan antara sawit dan isu lingkungan bersifat kompleks dan tidak dapat disederhanakan menjadi satu sebab tunggal.

Diskusi turut menghadirkan sudut pandang medis melalui paparan dosen Fakultas Kedokteran USU, dr. M. Ichwan. Ia menjelaskan bahwa minyak sawit dan turunannya memiliki nilai manfaat dalam bidang kesehatan, termasuk kandungan antioksidan tocotrienol serta pemanfaatan gliserin dalam produk farmasi dan kosmetik.

Baca Juga: BPDP Dorong Kolaborasi Riset Sawit dan UMKM melalui InaRI Expo 2025

Menurutnya, penilaian terhadap sawit, baik dalam konteks kesehatan maupun lingkungan harus didasarkan pada bukti ilmiah dan riset, bukan sekadar opini.

Melalui Sawit Academy, Hai Sawit Indonesia dan BPDP berharap semakin banyak generasi muda memahami peran strategis sawit dalam pembangunan ekonomi nasional, keberlanjutan, serta kehidupan sehari-hari masyarakat. Dialog terbuka yang melibatkan industri, akademisi, dan mahasiswa dinilai menjadi langkah penting dalam membangun perspektif yang kritis, objektif, dan berbasis pengetahuan.

Sebagai informasi, BPDP merupakan badan layanan umum di bawah Kementerian Keuangan yang menghimpun serta mengelola dana perkebunan untuk mendukung program strategis seperti pengembangan SDM, peremajaan sawit rakyat, riset, promosi, dan peningkatan sarana prasarana sektor perkebunan. Dukungan terhadap kegiatan edukasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas generasi muda di sektor sawit nasional.

Dengan pendekatan multidisiplin dari industri, akademik, hingga kesehatan kegiatan ini menegaskan pentingnya pemahaman komprehensif sebagai fondasi bagi generasi muda untuk berkontribusi pada masa depan sawit Indonesia yang berkelanjutan