Peringatan Safer Internet Day atau Hari Internet Aman Sedunia menjadi momentum penting untuk kembali mengingatkan peran orang tua dalam menjaga keamanan remaja di dunia digital.
Di tengah derasnya arus informasi, tren media sosial yang cepat berubah, serta munculnya berbagai aplikasi baru, orang tua tetap dapat mendampingi anak tanpa harus memantau seluruh isi percakapan atau terlibat dalam perdebatan panjang soal waktu penggunaan gawai.
Pendekatan yang tepat bukan sekadar membatasi, tetapi membangun komunikasi dan kepercayaan agar remaja merasa nyaman berdiskusi mengenai aktivitas online mereka.
Dengan cara ini, orang tua dapat tetap suportif tanpa merasa kewalahan menghadapi perkembangan teknologi.
Dan, berikut beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu remaja tetap aman saat mengakses internet.
1. Kenali Dunia Digital Mereka
Bagi remaja, media sosial bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang untuk belajar, menemukan minat, dan bergabung dengan komunitas yang sesuai dengan hobi mereka.
Meski orang tua mungkin tidak selalu memahami tren atau kreator favorit anak, mencoba berdiskusi tentang aktivitas online mereka dapat membuka ruang komunikasi yang lebih akrab.
Ketika orang tua menunjukkan ketertarikan, remaja cenderung lebih terbuka menceritakan pengalaman mereka di internet, termasuk jika mengalami situasi yang tidak nyaman.
2. Bangun Komunikasi Dua Arah
Membangun kepercayaan sama pentingnya dengan mengaktifkan fitur keamanan digital. Percakapan santai dari hati ke hati membantu orang tua dan remaja memiliki pemahaman yang sama mengenai penggunaan internet.
Orang tua dapat memulai diskusi sederhana, misalnya menanyakan apa yang paling mereka sukai saat online, bagaimana mereka harus merespons pesan dari orang asing, atau kapan waktu yang tepat untuk beristirahat dari gawai.
Percakapan ringan namun jujur dapat mempererat hubungan sekaligus meningkatkan kesadaran keamanan digital.
3. Manfaatkan Fitur Perlindungan Otomatis
Saat remaja menggunakan platform seperti Instagram, Facebook, atau Messenger, akun mereka secara otomatis masuk dalam kategori akun remaja yang telah dilengkapi berbagai fitur perlindungan bawaan.
Fitur tersebut antara lain membatasi pesan dari orang asing, mengatur siapa yang dapat menandai akun mereka, menyaring konten yang tidak sesuai usia, serta mengaburkan gambar mencurigakan dalam pesan langsung. Perlindungan ini berlaku untuk pengguna di bawah 18 tahun.
Bagi remaja di bawah usia 16 tahun, perubahan pengaturan keamanan hanya dapat dilakukan dengan izin orang tua, sehingga pengawasan tetap terjaga.
Baca Juga: SEJIWA Peringati Safer Internet Day 2026, Perkuat Resiliensi Digital dan Ruang Aman bagi Anak