DGL Learning Institute bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian menggelar Pelatihan Panen dan Pasca Panen bagi 60 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 yang bertujuan meningkatkan kompetensi pekebun sawit dalam mengelola proses panen dan pasca panen secara lebih efektif guna mendukung produktivitas dan kualitas hasil kebun.

Baca Juga: DGL Learning Institute Bersama BPDP dan Ditjenbun Perkuat Kompetensi 119 Pekebun Morowali di Palu

Sebanyak 60 peserta mengikuti pelatihan yang dibagi dalam beberapa angkatan. Materi yang diberikan mencakup teknik panen kelapa sawit yang tepat, pengelolaan tandan buah segar (TBS), penanganan brondolan, pengurangan kehilangan hasil, hingga tata kelola pasca panen di tingkat kebun.

Direktur Utama PT Daya Guna Lestari, M. Gema Aliza Putra, mengatakan bahwa aspek panen dan pasca panen menjadi salah satu faktor penting yang menentukan produktivitas dan pendapatan pekebun kelapa sawit.

"Panen adalah titik penting yang menentukan hasil dan pendapatan pekebun. Jika panen dilakukan dengan benar, mutu TBS akan lebih baik. Jika pasca panen dilakukan dengan tepat, maka nilai ekonomi yang diterima petani juga akan lebih optimal," ujarnya di Palu beberapa waktu lalu. 

Baca Juga: BPDP dan DGL Latih 94 Petani Sawit Subulussalam Tingkatkan Kualitas Panen dan Pascapanen

Menurut Gema, keberhasilan usaha perkebunan kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh proses budidaya. Tahapan panen dan pasca panen juga memiliki peran besar dalam menjaga kualitas hasil, meningkatkan produktivitas, dan memaksimalkan nilai ekonomi yang diterima pekebun.

Ia menjelaskan, masih banyak tantangan yang dihadapi pekebun di lapangan, mulai dari ketepatan menentukan tingkat kematangan buah, pengelolaan brondolan, penanganan TBS, hingga proses pengangkutan hasil panen. Karena itu, pelatihan teknis yang aplikatif dinilai penting untuk memperkuat kapasitas pekebun.

"Panen bukan hanya soal memotong buah. Panen membutuhkan pengetahuan, ketelitian, disiplin, dan pemahaman terhadap standar mutu. Jika proses panen tidak dilakukan dengan baik, maka potensi kehilangan hasil bisa terjadi dan berdampak pada pendapatan pekebun," jelasnya.

Selain pembelajaran di dalam kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan dan kunjungan ke PT Mamuang, perusahaan perkebunan yang merupakan bagian dari Astra Agro Lestari. Melalui kegiatan tersebut, peserta dapat melihat langsung praktik terbaik dalam pengelolaan panen, penanganan hasil, serta tata kelola operasional perkebunan kelapa sawit.

Baca Juga: DGL Learning Institute dan Polbangtan Medan Cetak 80 Calon Auditor ISPO Lewat Pelatihan Komprehensif

Menurut Gema, pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena membantu peserta memahami penerapan teori secara langsung di kebun.

"Belajar panen dan pasca panen tidak cukup hanya dari teori. Peserta perlu melihat langsung bagaimana praktik panen yang baik diterapkan di lapangan, bagaimana mutu TBS dijaga, bagaimana brondolan dikelola, dan bagaimana hasil panen ditangani agar tidak menurunkan kualitas," katanya.

Ia menambahkan, setiap kebun memang memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, prinsip dasar pengelolaan panen tetap sama, yakni memastikan panen dilakukan pada waktu yang tepat, dengan metode yang benar, serta diikuti penanganan hasil yang baik untuk menjaga kualitas produksi.

DGL Learning Institute juga menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pelatihan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan relevan dengan kebutuhan pekebun di lapangan.

Menurut Gema, keberhasilan pelatihan tidak diukur dari jumlah sertifikat yang diberikan, melainkan dari sejauh mana peserta mampu menerapkan ilmu yang diperoleh untuk meningkatkan pengelolaan kebunnya.

"Kami tidak ingin peserta hanya hadir, duduk, mendengar, lalu pulang membawa sertifikat. Kami ingin peserta benar-benar mendapatkan ilmu yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola usaha perkebunan," ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya menjaga kualitas tandan buah segar melalui ketepatan matang panen, pengumpulan brondolan secara optimal, kecepatan pengangkutan, serta penanganan hasil yang sesuai standar.

Menurut Gema, peningkatan produktivitas kebun sering kali dapat dimulai dari perbaikan hal-hal teknis yang sederhana namun berdampak besar terhadap hasil panen.

"Sering kali peningkatan hasil tidak selalu harus dimulai dari hal yang besar. Kadang dimulai dari hal yang sangat teknis, seperti memperbaiki disiplin panen, mengurangi buah mentah terpanen, memastikan brondolan terkumpul, dan menjaga agar TBS segera ditangani dengan baik," katanya.

Sebagai bagian dari penguatan pembelajaran, DGL Learning Institute juga memanfaatkan LMS DGL (Learning Management System). Melalui platform tersebut, peserta dapat mengakses materi pelatihan, memperoleh penguatan pembelajaran, serta mengikuti proses monitoring pasca pelatihan.

Gema menjelaskan bahwa proses pendampingan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. DGL akan melakukan monitoring lanjutan guna memastikan peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh di lapangan.

Selain itu, peserta juga didorong untuk melakukan kajian kebun guna memahami kondisi spesifik yang dihadapi masing-masing, mulai dari umur tanaman, produktivitas, kondisi lahan, hingga pola panen yang diterapkan.

Pelatihan Panen dan Pasca Panen bagi 60 pekebun sawit Morowali ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan teknis peserta dalam menjaga kualitas TBS, mengurangi kehilangan hasil, serta memperbaiki tata kelola pasca panen di tingkat kebun.

Melalui kolaborasi antara BPDP, Ditjenbun Kementerian Pertanian, dan DGL Learning Institute, Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 diharapkan dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia perkebunan Indonesia sekaligus mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing sektor kelapa sawit nasional.

"Teknologi boleh semakin maju, sistem boleh semakin berkembang, tetapi jika SDM-nya tidak disiapkan, maka kemajuan itu tidak akan berjalan maksimal. Karena itu, kami percaya bahwa penguatan SDM adalah fondasi penting bagi masa depan perkebunan Indonesia," tutup Gema.