Sebanyak 94 petani kelapa sawit asal Kota Subulussalam mengikuti pelatihan panen dan pascapanen kelapa sawit yang digelar di Banda Aceh pada 7–12 Juni 2026. Program ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian dan DGL Learning Institute sebagai pelaksana pelatihan.
Pelatihan yang berlangsung di Grand Permata Hati Hotel, Banda Aceh, tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi petani dalam menerapkan praktik panen dan penanganan pascapanen yang tepat guna meningkatkan kualitas hasil panen serta pendapatan pekebun.
Baca Juga: DGL Learning Institute dan Polbangtan Medan Cetak 80 Calon Auditor ISPO Lewat Pelatihan Komprehensif
Direktur Utama DGL Learning Institute, M. Gema Aliza Putra, mengatakan pelatihan menjadi salah satu cara untuk mengembalikan nilai ekonomi yang kerap hilang di tingkat kebun akibat praktik panen yang belum optimal.
Menurutnya, masih banyak potensi kerugian yang terjadi karena buah dipanen terlalu muda, brondolan tidak terkutip, maupun penanganan pascapanen yang kurang tepat.
"Sebagian nilai produksi sawit justru hilang di tingkat kebun. Melalui pelatihan ini, petani dibekali keterampilan agar hasil yang diperoleh bisa lebih maksimal," kata Gema saat pembukaan kegiatan.
Ia menambahkan, program pengembangan SDM yang didukung BPDP merupakan bentuk penguatan kapasitas petani sawit rakyat agar mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil kebun secara berkelanjutan.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Zulfadhli, menegaskan bahwa sektor perkebunan masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Aceh.
Data pemerintah daerah menunjukkan sekitar 821.662 kepala keluarga menggantungkan penghidupan pada subsektor perkebunan. Untuk komoditas sawit rakyat, luas arealnya mencapai 268.189 hektare yang dikelola sekitar 147.834 kepala keluarga.
Baca Juga: Bersama DGL, DISBUNNAK OKI Adakan Bimtek STDB Tingkatkan Tata Kelola Sawit
Khusus di Kota Subulussalam, luas perkebunan sawit rakyat tercatat mencapai 19.304 hektare dengan sekitar 13.614 kepala keluarga yang bergantung pada sektor tersebut.
Menurut Zulfadhli, keberhasilan usaha perkebunan sawit sangat ditentukan oleh kualitas panen dan pascapanen. Kesalahan dalam menentukan tingkat kematangan buah atau keterlambatan mengutip brondolan dapat menurunkan kualitas crude palm oil (CPO) dan berdampak pada harga jual yang diterima petani.
"Panen dan pascapanen merupakan tahapan yang sangat menentukan kualitas hasil. Karena itu peningkatan kapasitas petani menjadi penting untuk menjaga mutu produksi dan daya saing sawit rakyat," ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Kota Subulussalam, Andriansyah. Ia menyebut kelapa sawit merupakan komoditas unggulan daerah yang menopang sebagian besar perekonomian masyarakat.
Menurutnya, luas perkebunan sawit di Subulussalam mencapai sekitar 40 ribu hektare, dengan sekitar 60 persen di antaranya merupakan kebun rakyat.
Melalui pelatihan ini, pemerintah daerah berharap para peserta dapat memahami standar panen yang benar, pengelolaan hasil panen yang efektif, serta praktik terbaik dalam penanganan pascapanen untuk meningkatkan produktivitas kebun.
Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan langsung di kebun guna memperkuat pemahaman teknis terkait proses panen dan pascapanen.
Pada kesempatan yang sama, DGL Learning Institute juga menandatangani nota kesepahaman dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Kota Subulussalam, serta Politeknik Kutaraja sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi pengembangan SDM perkebunan di Aceh.
Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang didukung BPDP ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor sawit rakyat sekaligus mendukung produktivitas dan keberlanjutan industri sawit nasional.