Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memprediksi jika nilai tukar (kurs) rupiah akan mengalmi tekanan berat terkait kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).

Diketahui, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memberlakukan tarif tinggi kepada negara-negara yang selama ini memiliki surplus dagang dengan AS.

Baca Juga: Kementerian Luar Negeri Tegaskan Indonesia Tolak Usulan Trump Relokasi Warga Gaza Palestina

Baca Juga: Prabowo Diminta Ikut Langkah Donald Trump Keluar dari WHO

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia membukukan surplus perdagangan barang sebesar USD16,842 miliar dengan AS di 2024. Surplus itu banyak ditopang oleh komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya HS 85; pakaian dan aksesorinya (rajutan) HS 61; dan alas kaki HS 64.

"Ada ketakutan Amerika menyasar ke Asia Tenggara, salah satunya adalah Indonesia. Ini yang kita harus hati-hati juga, apakah BI intervensi di pasar atau tidak, ini yang harus diperhatikan oleh pasar," katanya, seperti dilansir Antara, Kamis (3/4/2025).

"Indonesia (mendapatkan tarif) 32 persen. Rupiah bakalan tertekan berat sebagai salah satu negara yang dikenakan tariff reciprocal besar," tambah dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan tarif tambahan sebesar 25 persen untuk semua mobil yang dibuat di luar AS akan berlaku sesuai rencana pada hari ini.

"Rupiah diperkirakan akan kembali melemah hari ini, besar kemungkinan akan volatile dan melibatkan intervensi Bank Indonesia. Indeks dolar AS terpantau volatile menyusul kebijakan tarif imbal balik Trump yang sedang diumumkan terlihat lebih agresif dari yang diperkirakan. Sentimen pasar saat ini sangat negatif dan risk off, BI akan intervensi," ujarnya lagi.

Terkait sentimen tersebut, kurs rupiah pada hari ini diperkirakan berkisar Rp16.600 sampai dengan Rp16.900 per dolar AS.