Lebih lanjut, Tahir pun menekankan bahwa hidup di Indonesia adalah sebuah anugerah yang terkadang kurang disadari oleh banyak orang.
“Tetapi saya pikir adalah suatu peringatan, suatu inspirasi kepada kita semua. Kita hidup di Indonesia ini sebetulnya kita terlalu beruntung,” ujarnya.
Lebih lanjut, Tahir pun mengajak masyarakat Indonesia melihat realitas di berbagai penjuru dunia hari ini. Yakni, dengan melihat kondisi seperti di Gaza, Ukraina, Venezuela, dan negara lain yang tengah dilanda konflik serta krisis.
“Coba lihat negara sebagian ya, sekeliling kita, kita lihat Gaza, kita lihat Ukraine. Kita lihat Venezuela, kita lihat Kongo, kita lihat Kuba sekarang. Tidak ada minyak, listrik pun tidak ada. Jadi begitu banyak negara sekitar kita ini sangat susah, setengah mati,” ujarnya dengan nada penuh keprihatinan.
Ia pun lantas mengajak masyarakat Indonesia untuk bersyukur bukan hanya dalam kata, tetapi juga dalam perbuatan nyata.
“Kita negara besar dan negaranya pun berkat daripada Gusti Allah Kaya sekali, mempunyai suatu natural resources yang begitu mewah. Maka itu kita bersukur. Bersukur tidak hanya diucapkan dalam kata-kata,” paparnya.
Ia juga menghubungkan nilai budaya Indonesia, seperti silaturahmi dan mengucapkan maaf lahir batin, sebagai refleksi dari rasa empati terhadap sesama.
“Bersyukur itu juga ada consequences event-nya, ada impactnya. Yaitu belajarah kita di negara ini yang menganut falsafah Jawa yang luar biasa ya, bahwa silaturami, berbicara maaf lahir batin itu berarti itu semua mulia,” paparnya.
Terakhir, Tahir pun mengajak seluruh masyarakat, terutama mereka yang memiliki kemampuan lebih, untuk mengubah rasa syukur menjadi tindakan yang berdampak.
“Kita tidak hanya harus mementingkan keluarga kita, mungkin orang sekitar kita yang kurang mampu,” tandasnya.
Baca Juga: Wisdom Dato Sri Tahir tentang Hak Milik atas Kekayaan