Dato Sri Tahir, Founder Mayapada Group sekaligus tokoh filantropi Indonesia, baru-baru ini mengungkapkan kekagumannya terhadap skala dan dampak kegiatan filantropi yang dilakukan oleh Bill Gates, pendiri Microsoft dan salah satu filantropis terbesar dunia.

Tahir menyebut Bill Gates bukan hanya sebagai sosok inspiratif, tetapi sebagai pengingat besar akan tanggung jawab orang yang berkelimpahan harta untuk memberi kembali kepada masyarakat.

Menurut Tahir, komitmen Gates dalam menyumbangkan kekayaannya adalah sesuatu yang jarang ditemui, bahkan di antara para dermawan kelas dunia sekalipun.

“Jadi Bill Gates, kalau dia 20 tahun yang lalu, dia tidak banyak keluar uang nyumbang, dia sekarang orang terkaya di dunia. Kenapa? Microsoft itu market capnya hari ini, nilai itu 4 triliun USD,” tutur Tahir, saat ditemui Olenka, di Jakarta, belum lama ini.

“Kalau dia tidak nyumbang, dia mungkin minimum ada 25%, dia berarti harta dia ada 1 triliun. 1 triliun itu sekarang ini tetap dia orang terkaya. Ini pertama, jadi 20 tahun yang lalu dia sudah berikan,” sambungnya.

Tahir kemudian mengisahkan pertemuan Gates dengan Presiden RI, Prabowo Subianto, di Istana Merdeka Jakarta, di mana Gates menyampaikan komitmen yang lebih radikal lagi.

“Beliau bertemu dengan bapak presiden. Beliau mengatakan resmi bahwa the next 20 years dua tahun akan datang, saya akan habiskan uang saya sampai nol. Jadi saya berikan semuanya,” ungkap Tahir.

Pengakuan Gates tersebut pun menjadi cermin bagi Tahir sendiri, bahwa meskipun ia merasa tidak akan mampu mengikuti jejak Gates secara penuh, tetapi semangat pemberian itu adalah sesuatu yang patut direnungkan semua orang yang beruntung secara materi.

“Ini luar biasa, luar biasa sekali. Dan sangat memberikan inspirasi ke saya. Saya pasti adalah tidak mampu mengikuti secara dia,” tukasnya.

Baca Juga: Tahir Soal Kebiasaan Beramal: Ketika Memberi Kita Mendapatkan, Berbagi Bukan Kehilangan

Lebih lanjut, Tahir pun menekankan bahwa hidup di Indonesia adalah sebuah anugerah yang terkadang kurang disadari oleh banyak orang.

“Tetapi saya pikir adalah suatu peringatan, suatu inspirasi kepada kita semua. Kita hidup di Indonesia ini sebetulnya kita terlalu beruntung,” ujarnya.

Lebih lanjut, Tahir pun mengajak masyarakat Indonesia melihat realitas di berbagai penjuru dunia hari ini. Yakni, dengan melihat kondisi seperti di Gaza, Ukraina, Venezuela, dan negara lain yang tengah dilanda konflik serta krisis.

“Coba lihat negara sebagian ya, sekeliling kita, kita lihat Gaza, kita lihat Ukraine. Kita lihat Venezuela, kita lihat Kongo, kita lihat Kuba sekarang. Tidak ada minyak, listrik pun tidak ada. Jadi begitu banyak negara sekitar kita ini sangat susah, setengah mati,” ujarnya dengan nada penuh keprihatinan.

Ia pun lantas mengajak masyarakat Indonesia untuk bersyukur bukan hanya dalam kata, tetapi juga dalam perbuatan nyata.

“Kita negara besar dan negaranya pun berkat daripada Gusti Allah Kaya sekali, mempunyai suatu natural resources yang begitu mewah. Maka itu kita bersukur. Bersukur tidak hanya diucapkan dalam kata-kata,” paparnya.

Ia juga menghubungkan nilai budaya Indonesia, seperti silaturahmi dan mengucapkan maaf lahir batin, sebagai refleksi dari rasa empati terhadap sesama.

“Bersyukur itu juga ada consequences event-nya, ada impactnya. Yaitu belajarah kita di negara ini yang menganut falsafah Jawa yang luar biasa ya, bahwa silaturami, berbicara maaf lahir batin itu berarti itu semua mulia,” paparnya.

Terakhir, Tahir pun mengajak seluruh masyarakat, terutama mereka yang memiliki kemampuan lebih, untuk mengubah rasa syukur menjadi tindakan yang berdampak.

“Kita tidak hanya harus mementingkan keluarga kita, mungkin orang sekitar kita yang kurang mampu,” tandasnya.

Baca Juga: Wisdom Dato Sri Tahir tentang Hak Milik atas Kekayaan