Namun, Ray tidak ingin sekadar membuat menu dengan kombinasi rasa Jepang yang sudah umum. Tantangannya adalah menghadirkan karakter Japanese-inspired flavors yang tetap familiar bagi konsumen Indonesia, tetapi memiliki elemen kejutan.
“Terus abis itu ya udah, kita tek-tokan untuk bikin menu yang something yang orang Indonesia akan familiar rasanya. Tapi, nggak boleh yang itu-itu aja,” kata Ray.
Ia pun ingin menghindari kreasi yang menurutnya terlalu mudah ditebak.
“Menurut saya di sini nggak mau bikin chicken teriyaki mentai sandwich doang. Harus bikin yang sedikit elevator,” ujarnya.
Dari proses eksplorasi tersebut lahirlah Goma Chicken Toast dan Menchi Beef Katsu Toast. Kedua menu tersebut membawa pendekatan berbeda terhadap cita rasa Jepang, tetapi tetap menggunakan format toast yang sudah familiar bagi konsumen Janji Jiwa.
Goma Chicken Toast menggabungkan ayam crispy bercita rasa pedas, kol segar, mayones creamy, saus wijen gurih, dan bawang putih goreng. Ray memberikan perhatian khusus pada unsur tekstur karena menurutnya karakter renyah merupakan salah satu elemen yang dekat dengan selera masyarakat Indonesia.
“Orang Indonesia suka yang garing-garing. Dari pemilihan sayurnya aja, kita pilih sayur koll untuk crunch. Ada yang kita tambahin bawang putih goreng lagi, karena siapa yang nggak suka bawang goreng,” katanya.
Sementara itu, Menchi Beef Katsu Toast mengambil inspirasi dari menchi katsu, yakni olahan daging yang dibentuk menyerupai patty, dilapisi tepung roti, kemudian digoreng. Sajian tersebut dipadukan dengan saus Japanese-style yang memiliki karakter manis dan asam, serta mustard mayonnaise untuk memberikan rasa yang lebih kompleks.
“Menchi katsu adalah hambaga yang digoreng, pakai tepung roti, terus kita kasih pakai saus tonkotsu. Yang rasanya juga manis-asem. Kita pilih dua rasa yang akan masuk sama palet di Indonesia,” ujar Ray.
Ray menjelaskan, kedua menu tersebut memang dirancang dengan profil rasa yang berbeda. Goma Chicken Toast menawarkan karakter nutty dan rich dengan tambahan tekstur renyah, sedangkan Menchi Beef Katsu Toast mengambil pendekatan klasik dari sajian katsu Jepang.
“Untuk satunya itu a bit sweet, terus abis itu nutty, rasanya rich, terus ada garing-garing dari kol dan bawang putih gorengnya,” jelasnya.
“Kalau Menchi Katsu Toast-nya itu sebenarnya dari klasik katsu. Kalau orang di Jepang makan katsu itu pasti pakai saus yang namanya tonkatsu sauce. Nah, itu rasanya memang manis-asem. Itu yang kita pairing-in sama sausnya dan juga untuk nambah kick sedikit dan kompleks biar makin ramai di mulut. Itu kita bikin also yang dari mustard mayonnaise,” lanjut Ray.
Selain merancang rasa, tantangan terbesar dalam kolaborasi ini adalah memastikan kedua menu dapat diproduksi secara konsisten di jaringan Janji Jiwa yang tersebar di berbagai lokasi. Ray mengatakan, pengembangan menu untuk jaringan restoran memiliki tantangan berbeda dibandingkan mengelola satu restoran.
“Kalau misalnya main bisnisnya seperti saya, konsep lifestyle ya satu. Restorannya satu, ya konsisten di situ aja. Beda dengan konsisten seratus, apalagi di beda kota, beda pulau,” kata Ray.
Karena itu, proses pengembangan menu turut mempertimbangkan bahan baku, penyimpanan, persiapan, hingga metode penyajian. Ray bahkan mempelajari lebih dulu fasilitas dan sistem operasional Janji Jiwa sebelum menentukan formula menu yang akan dikembangkan.
Billy menegaskan bahwa aspek operasional tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi kreativitas Ray. Janji Jiwa justru memberikan ruang bagi sang chef untuk bereksplorasi, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan jaringan bisnis.
“Kita nggak mau restrict chef itu dengan paksaan. Kita pengennya memang coba chef-nya itu untuk bereksplorasi sendiri. Tetapi, kita memastikan, seperti Chef Ray bilang tadi, kita ada barrier,” tutur Billy.
“Barrier-nya apa? Kita multi-location. Itu ada logistik, itu ada juga penyimpanan, itu juga ada serving dan preparation, which is yang memang menjadi key utamanya untuk menghadirkan konsistensi,” lanjutnya.
Untuk mencapai formula akhir, proses pengembangan dilakukan melalui beberapa kali pengujian bersama tim Janji Jiwa. Ray mengatakan, proses tersebut melibatkan tim R&D dan komunikasi intensif untuk memastikan menu yang dirancang dapat diterapkan secara konsisten.
“Kita kurang lebih dua kali ikut testing. Terus habis itu, ya check-up-an lah. Komunikasi intens sama timnya Jiwa juga, ada R&D chef-nya,” kata Ray.
Hasil kolaborasi tersebut kemudian diperkenalkan secara terbatas mulai 23 September hingga 22 November 2026. Billy mengatakan sekitar 90 persen jaringan gerai Janji Jiwa dapat menyediakan kedua menu tersebut.
Baca Juga: Kedai Kopi Makin Menjamur, Bos Janji Jiwa Ungkap Celah Besar yang Masih Bisa Digarap