Growthmates, eksplorasi cita rasa Jepang terus berkembang di Indonesia, termasuk dalam sajian yang lebih praktis untuk dinikmati sehari-hari. Tak ingin berhenti pada menu yang sudah umum, Janji Jiwa bersama Chef, Restaurateur & Podcaster, Ray Janson menghadirkan interpretasi baru lewat kampanye “A Twist of Japan” dengan dua menu Jiwa Toast, Goma Chicken Toast dan Menchi Beef Katsu Toast.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari eksplorasi Janji Jiwa dalam mengembangkan Jiwa Toast, produk yang telah menjadi salah satu identitas brand sejak awal perjalanannya.

CEO JIWA Group, Billy Kurniawan, mengatakan Jiwa Toast pertama kali diperkenalkan sekitar tahun kedua setelah Janji Jiwa berdiri dan kemudian berkembang menjadi salah satu pembeda brand tersebut.

“Toast itu kita launch di tahun ke-2 kita launch brand coffee kita. Kita dulu launch itu dengan segmen Jiwa Toast waktu itu. And apparently, Jiwa Toast itu sangat-sangat kuat dan menjadi satu USP, berbeda dari brand-brand yang lain juga,” ungkap Billy saat press conference Janji Jiwa “A Twist of Japan” di Janji Jiwa Culture Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2026).

Seiring perkembangannya, lanjut Billy, Janji Jiwa ingin membawa Jiwa Toast ke arah yang lebih eksploratif. Menurut Billy, inovasi tersebut tetap berangkat dari DNA Janji Jiwa yang mengedepankan excitement dan pengalaman baru bagi konsumen.

“Kita kali ini pengen hadirkan sesuatu yang berbeda. Karena sesuai dengan brand DNA-nya tentang excitement dan juga inovasi, kita pengen coba sesuatu yang lebih cocok juga. Itu dengan bukan hanya dari produk, tapi juga siapa orangnya,” kata Billy.

Pilihan kemudian jatuh kepada Chef Ray Janson. Pengalaman lebih dari 15 tahun di industri kuliner, termasuk kiprahnya di sejumlah dapur ternama di Prancis, Australia, dan Denmark, menjadi salah satu bagian dari latar belakang Ray. Lulusan Le Cordon Bleu Paris tersebut juga dikenal sebagai chef, restaurateur, entrepreneur, dan podcaster.

Di Indonesia sendiri, Ray merupakan pemilik SEBA Blok M, Japanese izakaya and sake bar, serta dikenal melalui Ray Janson Radio yang mengangkat berbagai cerita dan figur dari industri food and beverage. Ia juga saat ini berperan sebagai Kepala Bidang Komunikasi dan Media di Dewan Kuliner Indonesia.

Bagi Billy, karakter Ray yang gemar bereksplorasi sekaligus memiliki perhatian terhadap cita rasa lokal membuat kolaborasi tersebut memiliki kecocokan dengan arah inovasi Janji Jiwa.

“Kalau boleh dilihat juga Chef Ray profilnya, eksploratifnya kemarin sudah bentar. Bukan hanya karena sudah mengalami warna keluar, tapi di Indonesia sendiri juga mengangkat yang lokal-lokal cuisine, lokal-lokal taste. Jadi as a profile itu fit banget dari eksploratif character-nya dengan kita,” tutur Billy.

Di kesempatan yang sama, Chef Ray sendiri mengaku memiliki kedekatan dengan kuliner Jepang sejak kecil. Ketertarikannya kemudian semakin berkembang ketika ia memilih konsep restoran Jepang bersama sejumlah partner untuk bisnisnya di kawasan Blok M. Pengalaman tersebut membuat eksplorasi cita rasa Jepang dalam kolaborasi bersama Janji Jiwa menjadi sesuatu yang cukup natural baginya.

Baca Juga: Janji Jiwa Eksplorasi Rasa Jepang Lewat 2 Toast Baru Bareng Chef Ray Janson

Namun, Ray tidak ingin sekadar membuat menu dengan kombinasi rasa Jepang yang sudah umum. Tantangannya adalah menghadirkan karakter Japanese-inspired flavors yang tetap familiar bagi konsumen Indonesia, tetapi memiliki elemen kejutan.

“Terus abis itu ya udah, kita tek-tokan untuk bikin menu yang something yang orang Indonesia akan familiar rasanya. Tapi, nggak boleh yang itu-itu aja,” kata Ray.

Ia pun ingin menghindari kreasi yang menurutnya terlalu mudah ditebak.

“Menurut saya di sini nggak mau bikin chicken teriyaki mentai sandwich doang. Harus bikin yang sedikit elevator,” ujarnya.

Dari proses eksplorasi tersebut lahirlah Goma Chicken Toast dan Menchi Beef Katsu Toast. Kedua menu tersebut membawa pendekatan berbeda terhadap cita rasa Jepang, tetapi tetap menggunakan format toast yang sudah familiar bagi konsumen Janji Jiwa.

Goma Chicken Toast menggabungkan ayam crispy bercita rasa pedas, kol segar, mayones creamy, saus wijen gurih, dan bawang putih goreng. Ray memberikan perhatian khusus pada unsur tekstur karena menurutnya karakter renyah merupakan salah satu elemen yang dekat dengan selera masyarakat Indonesia.

“Orang Indonesia suka yang garing-garing. Dari pemilihan sayurnya aja, kita pilih sayur koll untuk crunch. Ada yang kita tambahin bawang putih goreng lagi, karena siapa yang nggak suka bawang goreng,” katanya.

Sementara itu, Menchi Beef Katsu Toast mengambil inspirasi dari menchi katsu, yakni olahan daging yang dibentuk menyerupai patty, dilapisi tepung roti, kemudian digoreng. Sajian tersebut dipadukan dengan saus Japanese-style yang memiliki karakter manis dan asam, serta mustard mayonnaise untuk memberikan rasa yang lebih kompleks.

“Menchi katsu adalah hambaga yang digoreng, pakai tepung roti, terus kita kasih pakai saus tonkotsu. Yang rasanya juga manis-asem. Kita pilih dua rasa yang akan masuk sama palet di Indonesia,” ujar Ray.

Ray menjelaskan, kedua menu tersebut memang dirancang dengan profil rasa yang berbeda. Goma Chicken Toast menawarkan karakter nutty dan rich dengan tambahan tekstur renyah, sedangkan Menchi Beef Katsu Toast mengambil pendekatan klasik dari sajian katsu Jepang.

“Untuk satunya itu a bit sweet, terus abis itu nutty, rasanya rich, terus ada garing-garing dari kol dan bawang putih gorengnya,” jelasnya.

“Kalau Menchi Katsu Toast-nya itu sebenarnya dari klasik katsu. Kalau orang di Jepang makan katsu itu pasti pakai saus yang namanya tonkatsu sauce. Nah, itu rasanya memang manis-asem. Itu yang kita pairing-in sama sausnya dan juga untuk nambah kick sedikit dan kompleks biar makin ramai di mulut. Itu kita bikin also yang dari mustard mayonnaise,” lanjut Ray.

Selain merancang rasa, tantangan terbesar dalam kolaborasi ini adalah memastikan kedua menu dapat diproduksi secara konsisten di jaringan Janji Jiwa yang tersebar di berbagai lokasi. Ray mengatakan, pengembangan menu untuk jaringan restoran memiliki tantangan berbeda dibandingkan mengelola satu restoran.

“Kalau misalnya main bisnisnya seperti saya, konsep lifestyle ya satu. Restorannya satu, ya konsisten di situ aja. Beda dengan konsisten seratus, apalagi di beda kota, beda pulau,” kata Ray.

Karena itu, proses pengembangan menu turut mempertimbangkan bahan baku, penyimpanan, persiapan, hingga metode penyajian. Ray bahkan mempelajari lebih dulu fasilitas dan sistem operasional Janji Jiwa sebelum menentukan formula menu yang akan dikembangkan.

Billy menegaskan bahwa aspek operasional tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi kreativitas Ray. Janji Jiwa justru memberikan ruang bagi sang chef untuk bereksplorasi, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan jaringan bisnis.

“Kita nggak mau restrict chef itu dengan paksaan. Kita pengennya memang coba chef-nya itu untuk bereksplorasi sendiri. Tetapi, kita memastikan, seperti Chef Ray bilang tadi, kita ada barrier,” tutur Billy.

“Barrier-nya apa? Kita multi-location. Itu ada logistik, itu ada juga penyimpanan, itu juga ada serving dan preparation, which is yang memang menjadi key utamanya untuk menghadirkan konsistensi,” lanjutnya.

Untuk mencapai formula akhir, proses pengembangan dilakukan melalui beberapa kali pengujian bersama tim Janji Jiwa. Ray mengatakan, proses tersebut melibatkan tim R&D dan komunikasi intensif untuk memastikan menu yang dirancang dapat diterapkan secara konsisten.

“Kita kurang lebih dua kali ikut testing. Terus habis itu, ya check-up-an lah. Komunikasi intens sama timnya Jiwa juga, ada R&D chef-nya,” kata Ray.

Hasil kolaborasi tersebut kemudian diperkenalkan secara terbatas mulai 23 September hingga 22 November 2026. Billy mengatakan sekitar 90 persen jaringan gerai Janji Jiwa dapat menyediakan kedua menu tersebut.

Baca Juga: Kedai Kopi Makin Menjamur, Bos Janji Jiwa Ungkap Celah Besar yang Masih Bisa Digarap