Growthmates, ketegangan geopolitik yang terus memanas kembali memicu kekhawatiran terhadap arah pasar keuangan global.

Di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah dan berbagai ketidakpastian ekonomi, CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, mengingatkan bahwa investor kemungkinan masih meremehkan berbagai risiko besar yang dapat mengguncang pasar saham dalam waktu mendatang.

Dalam sebuah wawancara dengan Wilfred Frost, Dimon bahkan mengaku belum tertarik membeli saham maupun obligasi pada level harga saat ini. Menurutnya, valuasi aset belum sepenuhnya mencerminkan potensi risiko yang sedang berkembang.

Risiko Geopolitik dan Fiskal Dinilai Belum Sepenuhnya Tercermin

Dimon mengatakan berbagai ketegangan global saat ini berpotensi memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan perkiraan banyak pelaku pasar.

Ia menyoroti perang di Ukraina, konflik di Timur Tengah, hingga meningkatnya rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang mendorong lonjakan belanja militer di berbagai negara.

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi defisit anggaran yang terus membesar. Kombinasi faktor-faktor tersebut dinilai dapat menjadi sumber tekanan baru bagi perekonomian global.

"Saya pikir risiko-risiko itu mungkin lebih besar daripada yang dipikirkan orang lain," tukas Dimon.

Saat ditanya apakah pasar telah memperhitungkan potensi guncangan besar di masa depan, ia menilai hal tersebut sulit dipastikan.

Menurutnya, sebagian risiko mungkin sudah tercermin dalam harga aset, tetapi konsekuensi nyata dari berbagai peristiwa yang bisa terjadi belum tentu telah dihitung oleh pasar.

"Mungkin ada sesuatu yang sudah diperhitungkan, tetapi yang belum diperhitungkan adalah apa yang sebenarnya terjadi," katanya.

Tidak Akan Membeli Pasar Secara Keseluruhan

Meski tetap melihat adanya peluang pada sejumlah perusahaan tertentu, Dimon menegaskan dirinya tidak akan membeli pasar saham secara luas pada valuasi saat ini.

Ia mengatakan, hanya akan mempertimbangkan saham individual apabila benar-benar menawarkan nilai investasi yang menarik.

Sikap serupa juga berlaku terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), yang menurutnya belum menarik untuk dibeli pada kondisi sekarang.

Pernyataan tersebut menunjukkan pandangan hati-hati terhadap kondisi pasar, meskipun indeks saham masih bertahan di level yang relatif tinggi.

Baca Juga: 4 Prinsip Kepemimpinan Utama ala CEO JPMorgan

Optimistis Ekonomi Lebih Tangguh, tetapi Tetap Waspada

Di sisi lain, Dimon mengakui bahwa ekonomi global saat ini memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan satu dekade lalu.

Salah satu penyebabnya adalah menurunnya ketergantungan terhadap energi sehingga sejumlah negara dinilai lebih siap menghadapi gejolak.

Namun, menurutnya kondisi tersebut bukan berarti pasar sepenuhnya aman dari potensi pembalikan arah secara tiba-tiba, terutama setelah gejolak besar yang sempat terjadi di pasar keuangan sepanjang tahun ini.

Soroti Belanja AI yang Terlalu Besar

Selain risiko geopolitik, Dimon juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap besarnya investasi kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan perusahaan-perusahaan teknologi.

Menurutnya, investasi tersebut memang berpotensi menghasilkan dampak besar seperti internet di masa lalu. Namun, ia mempertanyakan apakah seluruh pengeluaran tersebut akan memberikan hasil sesuai harapan dan dalam waktu yang diperkirakan.

"Jumlah uang yang dihabiskan sangat besar. Akankah secara keseluruhan membuahkan hasil? Mungkin, sama seperti internet," ujar Dimon.

"Akankah membuahkan hasil seperti yang Anda harapkan dan sesuai jadwal yang Anda harapkan? Tentu tidak," lanjutnya.

Baca Juga: Bukan soal Uang, Ini 3 Pelajaran Kesehatan dari Laporan Miliarder JPMorgan