Nama besar sebuah kampus kerap kali dianggap punya privilege dalam urusan mencari kerja. Jebolan-jebolan universitas ternama lazim dianggap lebih mudah diterima di perusahaan-perusahan besar ketimbang kampus menengah ke bawah.

Anggapan seperti ini tidak sepenuhnya benar, tetapi tak semuanya juga salah. Nama besar sebuah institusi pendidikan bisa menjadi magnet bagi sebuah manajemen perusahaan besar dalam memfilter para pelamar tapi ini hanya berlaku di tahap awal saja. 

Baca Juga: Jokowi Kenakan Atribut PSI Saat Blusukan ke Lampung, Anak Buah Kaesang: Outfit-nya Super Keren

Proses seleksi karyawan di perusahaan raksasa sama sekali tak terpaku hanya pada faktor nama kampus saja apalagi pegawai yang dicari untuk mengisi jabatan penting.

“Itu hanya filter awal, bukan menentukan akhir gitu ya,” kata Board of Director PT Kalbe Farma Tbk periode 2015–2021, Djonny Hartono ketika berbincang dengan Olenka.id ditulis Jumat (26/6/2026).

Nama besar kampus tidak selalu menjamin kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), untuk itu dalam proses perekrutan karyawan, perusahaan besar selalu melihat kandidat pegawai dari berbagai aspek. Makanya SDM dari kampus ternama maupun dari universitas yang biasa-biasa saja selalu mengikuti seleksi lewat berbagai rangkaian test.

“Apalagi kalau misalnya kita melihat sebagai shortcut bahwa ya udah di awal, ambil dulu dengan screening yang memudahkan buat hiring seperti ini, lalu ya mulai dilakukan tes-tes lainnya, terutama untuk entry level gitu kan,” ujarnya.

Pengaruh nama besar kampus semakin tak terpakai untuk perekrutan karyawan yang bakal menempati posisi strategis perusahaan. Di level ini perusahan cenderung melihat rekam jejak karir sebelumnya. Pada tahap ini pengalaman jauh lebih berharga ketimbang ijazah nilai akademik mentereng dari kampus-kampus besar.

"Ketika masuk ke level entah managerial, entah ke level director segala macam, ya sebenarnya itu udah nggak terlalu berpengaruh. Yang berpengaruh apa? Yang berpengaruh pasti background, track record gitu kan, artinya bahkan bukan kampusnya tapi berasal dari company mana gitu kan, yang punya reputasi baik, yang punya performance baik," jelasnya.

Selain rekam jejak, kompetensi calon kandidat juga menjadi faktor utama. Di sini perusahaan melihat kemampuan seorang kandidat dalam mengorganisir sebuah organisasi perusahaan.

Baca Juga: Desas-desus Pecah Kongsi Prabowo-Gibran: Upaya Membangun Persepsi Negatif di Ruang Publik

"Kedua kompetensinya apa? Lalu dia kira-kira kalau kita recruit punya value creation apa? Artinya bisa berkontribusi apa untuk menambah kekurangan yang dimiliki oleh company gitu kan. Itu yang lebih diutamakan, kira-kira seperti itu sih," pungkas Djonny.