Dalam kesehariannya bersama pasangan, Nadira pun berusaha memanfaatkan waktu ketika bisa bertemu dan berinteraksi dengan anak.
Momen setelah anak pulang sekolah atau ketika anak sedang berada dalam kondisi nyaman menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengajak anak berbicara, meskipun komunikasi verbal belum dapat dilakukan secara dua arah.
Nadira menjelaskan bahwa anaknya merupakan anak nonverbal sehingga belum dapat diajak berkomunikasi secara verbal seperti anak pada umumnya. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti mengajak anak berbicara dan berbagi cerita mengenai aktivitasnya.
“Kita suka ajak ngomong, ‘Eh tadi di sekolah pinter yang apa?’ Kita berisik aja karena anakku kebetulan non-verbal, jadi dia belum bisa diajak komunikasi,” jelasnya.
Justru dari cerita guru mengenai aktivitas anak di sekolah, Nadira dapat menemukan berbagai pencapaian yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Salah satunya ketika anak mulai mampu menunggu giliran bersama teman-temannya untuk mengambil makanan ringan.
Bagi sebagian orang, menunggu antrean mungkin merupakan aktivitas sederhana. Namun, bagi Nadira dan keluarganya, kemampuan tersebut menjadi pencapaian yang layak dirayakan karena menunjukkan adanya perkembangan yang membutuhkan waktu dan proses.
“Katanya gurunya dia bisa kayak gini. Oh, itu enggak pernah aja sebelumnya dia mau menunggu temannya ngantre untuk ngambil snack. Itu kayak butuh waktu dan butuh proses sampai itu. Kayaknya itu semua orang cheering for it, semuanya senang.” ungkap Nadira.
Menurut Nadira, pola pikir tersebut membantu orang tua melihat perkembangan anak secara lebih utuh. Alih-alih terus membandingkan anak dengan pencapaian anak lain, orang tua dapat membandingkan kondisi anak dengan dirinya sendiri di masa sebelumnya.
Nadira mengajak orang tua untuk terus mengingat satu pertanyaan sederhana, yakni apa yang sebelumnya belum bisa dilakukan anak, tetapi kini sudah bisa dilakukan?
“Kita mesti ingat-ingat, apa sih yang sebelumnya enggak, sekarang iya. Nah, itu yang mesti dicatat sama kita. Jadi setiap hal kecil tuh perlu dirayakan,” pungkasnya.
Baca Juga: Psikolog Ungkap Bekal Penting Anak Neurodivergent Menuju Kemandirian