Tak hanya membahas cara menghadapi orang dengan NPD, Analisa juga memberikan pesan bagi mereka yang telah mendapatkan diagnosis NPD dari psikolog atau psikiater.
Menurutnya, diagnosis bukanlah akhir dari segalanya dan tidak perlu disikapi dengan rasa malu.
"Kalau ternyata diagnosisnya saya punya NPD, apa yang saya lakukan? Gak apa-apa, it's okay kalau Anda punya NPD ini di dalam diri Anda. Yang paling penting adalah Anda harus menerima dan menyadarinya," ujar Analisa.
Lebih lanjut, Analisa pun menekankan bahwa kesadaran terhadap kondisi diri menjadi langkah pertama untuk memperoleh dukungan yang tepat, baik melalui konseling rutin bersama tenaga profesional maupun dukungan dari orang-orang terdekat.
Selain itu, Analisa mendorong individu dengan NPD untuk terus melatih empati. Salah satu caranya adalah mencoba melihat situasi dari sudut pandang orang lain.
"Selalu gunakan kacamata helikopter orang ketiga. Apa yang saya lihat ketika saya menjadi orang tersebut ketika menghadapi saya? Dengan seperti itu Anda jadi bisa mengasah empati Anda secara terus-menerus," ungkapnya.
Terakhir, Analisa mengajak individu dengan NPD untuk tidak memusuhi kondisi tersebut, melainkan belajar mengelolanya dengan penuh kesadaran.
Menurutnya, karakteristik NPD bahkan bisa menjadi kekuatan apabila disadari dan diarahkan dengan tepat.
"Rangkul NPD Anda. Bisa jadi itu yang membuat Anda di posisi sekarang. Kalau Anda bisa menyadarinya, Anda mengelolanya, itu jadi kekuatan atas dasar kesadaran. Kalau Anda tidak sadar, ya NPD ini akan mengganggu Anda dan akhirnya muncullah anxiety, muncullah depresi atau mungkin relasi yang nggak baik dan akan menghambat karier Anda dalam dunia kerja," tutup Analisa.
Baca Juga: Psikolog Ungkap Rahasia Mental Erling Haaland, Bukan Sekadar Mengandalkan Fisik