Growthmates, menghadapi individu dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) di lingkungan kerja bukan perkara mudah. Komunikasi yang tidak jelas, ekspektasi yang kabur, hingga kecenderungan seseorang untuk mengambil seluruh pujian atas hasil kerja tim bisa menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, menurut Psikolog sekaligus Founder & Impact Oriented Business Leader, Analisa Widyaningrum, membangun batasan atau boundaries yang tegas menjadi kunci utama dalam menjaga hubungan kerja tetap profesional.
Analisa menuturkan, ketika harus bekerja bersama seseorang yang memiliki NPD, baik sebagai atasan maupun rekan kerja, penting untuk memastikan setiap peran, tugas, dan tanggung jawab telah disepakati secara jelas sejak awal.
"Karena aku fokusnya adalah tentang gimana setting dalam dunia kerja penting banget untuk membuat komunikasi yang jelas, sejelas mungkin. Ini akan jadi sebuah boundaries atau batasan untuk kita berinteraksi dengan dia. Apa tugasnya? Apa tanggung jawabnya?,” papar Analisa, dalam sebuah video sebagaimana dikutip dari laman Instagram pribadinya, Jumat (17/7/2026).
Bagi karyawan yang berada di posisi bawahan, Analisa menyarankan agar ekspektasi atasan dipahami dengan baik sekaligus tetap mengingatkan bahwa keberhasilan pekerjaan merupakan hasil kolaborasi seluruh tim.
Dengan begitu, kata dia, seseorang tidak mudah terbawa emosi ketika menghadapi perilaku yang cenderung mencari pengakuan.
"Kalau kita di posisi sebagai follower, sebagai staff, artinya kita perlu membuat batasan ekspektasi apa yang diharapkan oleh atasan kita. Selalu di-mention bahwa hasil kerja ini adalah hasil kerja tim, ini kolaborasi kita bersama. Sehingga dengan adanya fokus kepada hasil kerja, kita tidak terlalu kebawa perasaan sama orang tersebut," jelasnya.
Sementara itu, bagi seorang atasan yang memimpin anggota tim dengan kecenderungan NPD, Analisa menilai, penting untuk memberikan tugas sesuai kapasitas serta terus menegaskan bahwa setiap pencapaian merupakan tanggung jawab bersama.
"Beri tugas yang sesuai dengan kapasitas dia dan selalu ingetin kalau ini adalah tugas kita bersama. Itu mungkin yang bisa kita lakukan kalau kita sebagai atasan," katanya.
Baca Juga: 3 Skill Set yang Harus Dimiliki Wanita Karier Agar Mampu Berkembang
Tak hanya membahas cara menghadapi orang dengan NPD, Analisa juga memberikan pesan bagi mereka yang telah mendapatkan diagnosis NPD dari psikolog atau psikiater.
Menurutnya, diagnosis bukanlah akhir dari segalanya dan tidak perlu disikapi dengan rasa malu.
"Kalau ternyata diagnosisnya saya punya NPD, apa yang saya lakukan? Gak apa-apa, it's okay kalau Anda punya NPD ini di dalam diri Anda. Yang paling penting adalah Anda harus menerima dan menyadarinya," ujar Analisa.
Lebih lanjut, Analisa pun menekankan bahwa kesadaran terhadap kondisi diri menjadi langkah pertama untuk memperoleh dukungan yang tepat, baik melalui konseling rutin bersama tenaga profesional maupun dukungan dari orang-orang terdekat.
Selain itu, Analisa mendorong individu dengan NPD untuk terus melatih empati. Salah satu caranya adalah mencoba melihat situasi dari sudut pandang orang lain.
"Selalu gunakan kacamata helikopter orang ketiga. Apa yang saya lihat ketika saya menjadi orang tersebut ketika menghadapi saya? Dengan seperti itu Anda jadi bisa mengasah empati Anda secara terus-menerus," ungkapnya.
Terakhir, Analisa mengajak individu dengan NPD untuk tidak memusuhi kondisi tersebut, melainkan belajar mengelolanya dengan penuh kesadaran.
Menurutnya, karakteristik NPD bahkan bisa menjadi kekuatan apabila disadari dan diarahkan dengan tepat.
"Rangkul NPD Anda. Bisa jadi itu yang membuat Anda di posisi sekarang. Kalau Anda bisa menyadarinya, Anda mengelolanya, itu jadi kekuatan atas dasar kesadaran. Kalau Anda tidak sadar, ya NPD ini akan mengganggu Anda dan akhirnya muncullah anxiety, muncullah depresi atau mungkin relasi yang nggak baik dan akan menghambat karier Anda dalam dunia kerja," tutup Analisa.
Baca Juga: Psikolog Ungkap Rahasia Mental Erling Haaland, Bukan Sekadar Mengandalkan Fisik