Bayangkan kamu sedang bekerja di garda terdepan sebuah bank, dan tiba-tiba sang Presiden Komisaris datang berkunjung. Alih-alih merasa tegang karena ditanya soal laporan kerja atau target bulanan, kamu justru diajak mengobrol santai hingga selfie bareng. 

Inilah realita yang sering terjadi saat Jahja Setiaatmadja turun ke lapangan. Bagi bos BCA ini, membangun simpati dan menjadi role model jauh lebih krusial daripada sekadar menagih angka.

Jahja menekankan bahwa interaksi langsung adalah sarana terbaik untuk mengomunikasikan nilai-nilai perusahaan (corporate values). Namun, interaksi tersebut tidak melulu harus soal angka atau target yang mencekik.

Membangun Simpati Lewat Kebersamaan

Dalam sebuah kesempatan, Jahja membagikan rahasianya dalam membangun kedekatan dengan karyawan di berbagai level. Bukannya datang dengan wajah serius untuk mengaudit pekerjaan, beliau justru memilih pendekatan yang santai dan menyenangkan.

"Saya kalau ke cabang-cabang, kunjungan ke cabang, ke wilayah, gak nanyain kerjaan. Saya get long ngobrol-ngobrol, kemudian kita selfie-selfie bareng. Dengan teller-teller, dengan customer service, dan dengan lain-lain tuh kita happy bareng," ungkapnya dikutip Olenka, Minggu (26/4/2026).

Baginya, momen sederhana seperti berswafoto atau sekadar mengobrol ringan adalah cara efektif untuk membangun energi positif. 

"Ini adalah membangun simpati, membangun create suatu hal yang positif dalam bentuk perkenalan,"tambah Jahja.

Kekuatan Keramahan (Humbleness)

Sikap rendah hati atau humbleness menjadi pilar utama dalam kepemimpinannya. Hal ini terlihat dari cara beliau menghargai setiap orang, termasuk petugas keamanan (Satpam) di kantornya. Beliau percaya bahwa sapaan yang tulus memiliki dampak yang luar biasa bagi semangat kerja seseorang.

"Dengan orang-orang kita, tegur sahabat kita itu luar biasa. Mulut kita ini adalah sumber. Mulut Anda baik, kita simple dengan orang, sederhana, kita bersapa baik. Orang itu impact-nya besar sekali mungkin kita gak rasakan," jelas Jahja.

Baca Juga: Keseimbangan Hidup, Jahja Setiaatmadja Bicara Hubungan dengan Tuhan dan Sesama hingga Masalah Kesehatan dan Keuangan

Budaya "Copy-Paste" dalam Organisasi

Jahja menjelaskan bahwa perilaku seorang pemimpin puncak akan menjadi "cetak biru" bagi bawahannya. Jika pimpinan menunjukkan keramahan, maka budaya ramah itu akan mengalir sampai ke garda terdepan pelayanan nasabah.

"Nah itu menyebabkan kepala wilayah ngeliat, kepala cabang ngeliat. Mereka copy-paste. Jadi kalau kita datang ke cabang, waduh lurus gitu ya, ke depan cuman nanya kerjaan, ya jangan heran mereka juga akan begitu ke bawahannya," tutupnya.

Inilah alasan mengapa BCA memiliki budaya yang ramah dan dekat dengan nasabah. Semua dimulai dari puncaknya, seorang pemimpin yang tidak takut untuk melebur, menyapa dengan tulus, dan menciptakan kebahagiaan bersama timnya.