3. Jus Buah Belum Tentu Sama dengan Minuman Rasa Buah

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menganggap semua minuman dengan label buah memiliki kandungan dan kualitas gizi yang sama.

Padahal, konsumen perlu melihat jenis serta komposisi minuman tersebut. dr. Nadhira menjelaskan bahwa terdapat klasifikasi minuman buah berdasarkan kandungan sari buahnya.

“Di Indonesia itu ada aturan BPOM soal klasifikasi minuman buah. Minuman sari buah cukup punya kandungan sari buah asli minimal 35 persen, sisanya air dan gula. Sementara, minuman rasa buah itu bisa punya 10 persen sari buah asli,” papar dr. Nadhira.

Perbedaan ini menjadi semakin penting bagi orang yang membutuhkan asupan karbohidrat cepat, misalnya sebelum perlombaan atau di sela-sela latihan.

“Buat kalian yang butuh quick carbs sebelum race atau di sela training, tahu bedanya ini penting, karena jus 100 persen asli tanpa campuran air atau gula tambahan itu beda jauh,” terang dr. Nadhira.

Artinya, jangan hanya melihat tulisan ‘rasa buah’ pada kemasan. Perhatikan pula komposisi, kandungan sari buah, serta gula tambahan sebelum memilihnya.

4. Air Kelapa Punya Elektrolit Alami

Selain buah yang biasa dimakan langsung, lanjut dr. Nadhira, air kelapa juga bisa menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

Air kelapa mengandung elektrolit alami, salah satunya kalium. Kandungan tersebut berperan dalam menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.

“Terakhir, air kelapa. Air kelapa mengandung elektrolit alami seperti kalium yang membantu mengganti cairan tubuh kita,” jelas dr. Nadhira.

Bahkan, menurut dr. Nadhira, sejumlah penelitian menunjukkan air kelapa dapat memiliki efektivitas yang sebanding dengan minuman olahraga dalam kondisi tertentu.

“Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan efektivitasnya sebanding dengan minuman olahraga pada kondisi tertentu,” paparnya.

Meski begitu, kata dr. Nadhira, kebutuhan cairan dan elektrolit setiap orang tidak selalu sama. Kebutuhan tersebut dapat dipengaruhi oleh durasi dan intensitas olahraga, kondisi lingkungan, serta jumlah cairan yang hilang melalui keringat.

Baca Juga: Benarkah Kurangi Garam Bisa Cegah Hipertensi? Begini Penjelasan Dokter Spesialis Gizi