Stres kronis bukan hanya membuat pikiran lelah. Jika berlangsung terus-menerus, stres juga dapat memengaruhi tekanan darah dan meningkatkan beban kerja ginjal. Kenali hubungan stres, hipertensi, dan kesehatan ginjal sebelum terlambat.

Pernah merasa jantung berdebar, napas menjadi lebih cepat, atau tubuh terasa tegang ketika sedang banyak pikiran? Reaksi tersebut merupakan bagian dari respons alami tubuh terhadap stres.

Masalahnya, kondisi tersebut bisa menjadi kurang baik jika stres tidak kunjung mereda. Ketika tubuh terus berada dalam kondisi "siaga", detak jantung dan tekanan darah dapat meningkat berulang kali. Dalam jangka panjang, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah dan mengganggu fungsi ginjal.

Karena itu, stres kronis sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai masalah kesehatan mental. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kesehatan fisik, termasuk sistem kardiovaskular dan ginjal.

Mengutip Times of India, Selasa (1/9/2026), stres kronis tidak secara langsung dapat disebut sebagai penyebab tunggal penyakit ginjal.

Namun, stres berkepanjangan dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah dan perubahan gaya hidup yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan ginjal.

Mengapa Stres Bisa Membuat Tekanan Darah Naik?

Saat menghadapi situasi yang membuat stres, tubuh secara otomatis mengaktifkan respons untuk menghadapi ancaman atau tekanan. Hormon stres kemudian dilepaskan sehingga detak jantung meningkat dan pembuluh darah menyempit. Akibatnya, tekanan darah ikut naik.

Respons tersebut sebenarnya merupakan mekanisme normal dan bermanfaat ketika tubuh menghadapi bahaya dalam waktu singkat. Namun, jika stres terjadi terus-menerus, tubuh dapat berulang kali berada dalam kondisi siaga.

US National Center for Complementary and Integrative Health menjelaskan bahwa stres jangka panjang dapat berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan. Sebaliknya, respons relaksasi dapat membantu tubuh kembali ke kondisi yang lebih tenang dan membantu menurunkan tekanan darah.

Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan antara stres psikososial kronis dan hipertensi. Meski demikian, stres bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan tekanan darah tinggi.

Pola makan, aktivitas fisik, berat badan, kualitas tidur, faktor genetik, obat-obatan, dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat berpengaruh.

Tekanan Darah Tinggi Bisa Membahayakan Ginjal

Ginjal merupakan salah satu organ penting yang bertugas menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah. Ginjal juga membantu mengatur keseimbangan cairan dan garam serta berperan dalam pengaturan tekanan darah.

Ketika tekanan darah tinggi berlangsung dalam waktu lama, tekanan tersebut dapat merusak pembuluh darah kecil dan struktur penyaring di dalam ginjal.

Jika kerusakan terus berlanjut, kemampuan ginjal dalam menyaring darah dapat menurun. Kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis.

Yang perlu diwaspadai, hubungan antara hipertensi dan penyakit ginjal dapat membentuk lingkaran yang saling memperburuk.

Ketika ginjal mengalami kerusakan, organ tersebut dapat kesulitan membuang kelebihan garam dan cairan dari tubuh. Akibatnya, tekanan darah dapat kembali meningkat. Tekanan darah yang semakin tinggi kemudian berpotensi memperparah kerusakan ginjal.

US National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat menciptakan siklus yang merugikan bagi kesehatan ginjal.

Baca Juga: Kepala Serasa Berdenyut Saat Banyak Pikiran? Ini Hubungan Stres dan Migrain yang Wajib Kamu Tahu