Selama ini buah sering dianggap sebagai makanan sehat yang bisa dikonsumsi kapan saja tanpa perlu banyak pertimbangan. Padahal, jenis buah, tingkat kematangan, hingga bentuk olahannya ternyata bisa memberikan manfaat yang berbeda bagi tubuh.
Bahkan, buah yang terlihat ‘biasa’seperti pisang ternyata memiliki karakteristik berbeda ketika masih hijau dan saat sudah matang sempurna.
Begitu pula dengan jus buah yang belum tentu memiliki kandungan buah sebanyak yang dibayangkan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Nadhira Afifa, MPH, SpGK, mengungkap 4 fakta menarik mengenai buah yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat.
“Ada 4 manfaat rahasia dari buah berikut yang kamu pasti belum tahu,” tutur dr. Nadhira, dikutip dari laman Instagram pribadinya @nadhiraafifa, Selasa (1/9/2026).
1. Pisang Hijau Bisa Jadi Pilihan Sebelum Olahraga
Pisang kerap menjadi pilihan makanan sebelum olahraga karena praktis dan mengandung karbohidrat. Namun, jika dikonsumsi sebelum aktivitas fisik, tingkat kematangan pisang ternyata bisa menjadi salah satu hal yang diperhatikan.
dr. Nadhira menjelaskan, pisang yang masih agak hijau memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan pisang yang sudah matang sepenuhnya.
“Pertama, pisang. Ternyata, pisang yang masih ada hijau, itu punya indeks glikemik jauh lebih rendah dibanding pisang yang sudah matang penuh,” papar dr. Nadhira.
Menurut dr. Nadhira, karakteristik tersebut membuat pisang yang belum terlalu matang dapat memberikan pelepasan energi secara lebih bertahap.
“Nah, kalau buat carbo-loading sebelum olahraga, pisang yang agak hijau itu ngasih pelepasan energi yang lebih bertahap, jadi nggak cepat gula darahnya naik,” bebernya.
Karena itu, bagi orang yang menjadikan buah sebagai bagian dari asupan sebelum berolahraga, pisang dengan tingkat kematangan yang sesuai bisa menjadi salah satu pilihan.
2. Nanas Tak Cuma Segar, Ada Bromelain di Dalamnya
Buah kedua yang disoroti dr. Nadhira adalah nanas. Di balik rasanya yang manis dan sedikit asam, nanas mengandung enzim bromelain.
Menurut dr. Nadhira, bromelain membantu proses pemecahan protein dan dikenal memiliki sifat anti-inflamasi.
“Kedua, nanas. Kandungan enzim bromelain pada nanas membantu memecah protein dan dikenal memiliki sifat anti-inflamasi,” tukasnya.
Berkat kandungan tersebut, nanas bahkan menjadi salah satu buah yang kerap direkomendasikan dr. Nadhira kepada pasien.
“Ini salah satu favorit yang aku rekomendasi ke pasien,” ujar dr. Nadhira.
Baca Juga: Berat Badan Sulit Turun Meski Diet dan Olahraga? Ini Penjelasan Dokter Spesialis Gizi
3. Jus Buah Belum Tentu Sama dengan Minuman Rasa Buah
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menganggap semua minuman dengan label buah memiliki kandungan dan kualitas gizi yang sama.
Padahal, konsumen perlu melihat jenis serta komposisi minuman tersebut. dr. Nadhira menjelaskan bahwa terdapat klasifikasi minuman buah berdasarkan kandungan sari buahnya.
“Di Indonesia itu ada aturan BPOM soal klasifikasi minuman buah. Minuman sari buah cukup punya kandungan sari buah asli minimal 35 persen, sisanya air dan gula. Sementara, minuman rasa buah itu bisa punya 10 persen sari buah asli,” papar dr. Nadhira.
Perbedaan ini menjadi semakin penting bagi orang yang membutuhkan asupan karbohidrat cepat, misalnya sebelum perlombaan atau di sela-sela latihan.
“Buat kalian yang butuh quick carbs sebelum race atau di sela training, tahu bedanya ini penting, karena jus 100 persen asli tanpa campuran air atau gula tambahan itu beda jauh,” terang dr. Nadhira.
Artinya, jangan hanya melihat tulisan ‘rasa buah’ pada kemasan. Perhatikan pula komposisi, kandungan sari buah, serta gula tambahan sebelum memilihnya.
4. Air Kelapa Punya Elektrolit Alami
Selain buah yang biasa dimakan langsung, lanjut dr. Nadhira, air kelapa juga bisa menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
Air kelapa mengandung elektrolit alami, salah satunya kalium. Kandungan tersebut berperan dalam menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
“Terakhir, air kelapa. Air kelapa mengandung elektrolit alami seperti kalium yang membantu mengganti cairan tubuh kita,” jelas dr. Nadhira.
Bahkan, menurut dr. Nadhira, sejumlah penelitian menunjukkan air kelapa dapat memiliki efektivitas yang sebanding dengan minuman olahraga dalam kondisi tertentu.
“Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan efektivitasnya sebanding dengan minuman olahraga pada kondisi tertentu,” paparnya.
Meski begitu, kata dr. Nadhira, kebutuhan cairan dan elektrolit setiap orang tidak selalu sama. Kebutuhan tersebut dapat dipengaruhi oleh durasi dan intensitas olahraga, kondisi lingkungan, serta jumlah cairan yang hilang melalui keringat.
Baca Juga: Benarkah Kurangi Garam Bisa Cegah Hipertensi? Begini Penjelasan Dokter Spesialis Gizi