3. Kembangkan talenta sebelum tanggung jawab itu datang

Greg Abel tidak muncul secara tiba-tiba ketika Buffett memutuskan untuk mundur. Ia telah bertahun-tahun berada di Berkshire dan secara bertahap mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar sebelum akhirnya dipercaya menjadi CEO.

Begitu pula dengan Howard Buffett yang telah lama memiliki pengalaman di jajaran dewan.

Bagi pemimpin perusahaan, proses ini menjadi pengingat bahwa pengembangan sumber daya manusia perlu dilakukan jauh sebelum posisi penting benar-benar kosong.

Pertanyaannya bukan hanya siapa yang bisa menggantikan Anda hari ini, tetapi siapa yang sedang Anda persiapkan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.

4. Suksesi bukan berarti harus menghilang sepenuhnya

Menyerahkan jabatan tidak selalu berarti meninggalkan organisasi secara total.

Buffett tetap berada di dewan direksi Berkshire dan masih dapat memberikan 'penilaian dan perspektif' berdasarkan pengalaman panjangnya.

Model seperti ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin dapat memberikan ruang kepada penerus untuk mengambil kendali, sembari tetap hadir ketika pengalaman dan pengetahuannya dibutuhkan.

Kuncinya adalah mengetahui kapan harus memberikan pandangan dan kapan harus membiarkan pemimpin baru mengambil keputusan sendiri.

5. Pertahankan budaya perusahaan, bukan hanya kinerja bisnis

Dalam proses suksesi, keberlangsungan perusahaan bukan hanya soal siapa yang menjalankan operasional. Budaya dan nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi organisasi juga perlu dijaga.

Di Berkshire Hathaway, Greg Abel mengambil peran sebagai CEO, sementara Howard Buffett memiliki tanggung jawab dalam membantu menjaga budaya dan nilai-nilai perusahaan.

Hal ini memperlihatkan bahwa perencanaan suksesi idealnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang akan menjalankan bisnis. Pemimpin juga perlu memikirkan siapa yang akan menjaga prinsip dan budaya yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

6. Berikan ruang kepada penerus untuk memiliki gaya kepemimpinannya sendiri

Penerus seorang pemimpin legendaris menghadapi tantangan tersendiri. Namun, tujuan suksesi bukanlah menciptakan "Warren Buffett berikutnya".

Penerus perlu diberi ruang untuk mengambil keputusan, membangun gaya kepemimpinannya sendiri, menghadapi kesalahan, dan mendapatkan kepercayaan dari karyawan maupun pemangku kepentingan dengan caranya sendiri.

Jika seorang penerus terus dituntut untuk mengikuti setiap langkah pendahulunya, proses pergantian kepemimpinan pada dasarnya belum benar-benar terjadi.

7. Kenali kapan waktunya menyerahkan kendali

Semakin sukses seorang pemimpin, semakin sulit pula proses melepaskan jabatan. Setelah puluhan tahun berada di posisi puncak, pekerjaan tersebut dapat menjadi bagian dari identitas seseorang. Terlebih ketika banyak orang masih mengandalkan pengalaman dan nasihatnya.

Namun, kepemimpinan pada akhirnya juga membutuhkan kemampuan untuk memberi kesempatan kepada orang lain untuk memimpin.

Buffett merangkumnya dalam kalimat sederhana, 'Waktu selalu menang'.

Waktu memang tidak dapat dihentikan. Yang dapat dilakukan seorang pemimpin adalah memastikan organisasi yang telah dibangunnya siap menghadapi masa ketika dirinya tidak lagi berada di kursi tertinggi.

Dari Berkshire Hathaway, pelajaran pentingnya bukan hanya tentang bagaimana membangun perusahaan besar, tetapi juga bagaimana membangun organisasi yang mampu bertahan melampaui sosok yang membesarkannya.

Baca Juga: 6 Hal yang Bisa Dipelajari dari Surat Pemegang Saham Warren Buffett