Growthmates, membangun perusahaan hingga menjadi salah satu organisasi paling sukses di dunia membutuhkan waktu dan konsistensi. Namun, ada tantangan lain yang tak kalah besar bagi seorang pemimpin: memastikan organisasi tetap mampu berjalan dan berkembang ketika dirinya tidak lagi berada di pucuk pimpinan.

Hal tersebut tercermin dari keputusan Warren Buffett yang mundur dari posisi chairman Berkshire Hathaway pada usia 96 tahun. Setelah memimpin perusahaan selama sekitar enam dekade, Buffett menyerahkan kursi ketua kepada putranya, Howard Buffett, sementara dirinya tetap berada di jajaran dewan direksi sebagai chairman emeritus.

Di bawah kepemimpinan Buffett, Berkshire Hathaway berkembang jauh dari bisnis tekstil yang sebelumnya mengalami kesulitan menjadi salah satu konglomerasi terbesar di dunia dengan nilai sekitar US$1,1 triliun.

Dalam suratnya kepada para pemegang saham, Buffett menulis, 'Waktu selalu menang. Namun, waktu telah bermurah hati kepada saya'.

Keputusan tersebut bukan sekadar pergantian jabatan. Bagi dunia bisnis, langkah Buffett juga menunjukkan bagaimana seorang pemimpin dapat mempersiapkan organisasi menghadapi masa depan tanpa dirinya.

Dan, dikutip dari Inc.com, Kamis (24/9/2026), berikut tujuh pelajaran kepemimpinan yang dapat dipetik dari proses suksesi di Berkshire Hathaway.

1. Siapkan penerus jauh sebelum Anda membutuhkannya

Pergantian kepemimpinan di Berkshire Hathaway tidak terjadi secara mendadak. Perusahaan telah mempersiapkan transisi tersebut selama bertahun-tahun.

Greg Abel telah lama dipersiapkan untuk mengambil alih posisi CEO, sementara Howard Buffett juga bukan sosok baru di perusahaan. Ia telah menjadi anggota dewan direksi Berkshire Hathaway sejak 1993.

Hal ini menunjukkan pentingnya menyiapkan calon penerus jauh sebelum seorang pemimpin benar-benar meninggalkan jabatannya. Menunggu sampai waktunya tiba untuk mencari pengganti dapat membuat proses transisi menjadi jauh lebih sulit.

2. Pisahkan identitas pribadi dari organisasi

Ketika seseorang menghabiskan puluhan tahun membangun perusahaan, ada risiko munculnya anggapan bahwa pemimpin dan organisasi merupakan satu kesatuan. Padahal, organisasi yang sehat seharusnya mampu bertahan tanpa bergantung sepenuhnya pada satu individu.

Pada akhirnya, salah satu tugas penting seorang pemimpin adalah membangun sistem, budaya, dan tim yang dapat terus bekerja secara efektif setelah dirinya tidak lagi memegang kendali.

Jika seluruh keputusan dan arah organisasi hanya bergantung pada satu orang, yang terbentuk bukanlah organisasi yang mandiri, melainkan ketergantungan terhadap pemimpinnya.

Baca Juga: Strategi Investasi Warren Buffett dalam Analogi Segelas Bir