Entrepreneur Modest Indonesia (EMI) turut menyemarakkan gelaran BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026. Melalui ajang tersebut, EMI menegaskan komitmen mendorong kemajuan industri modest fashion Tanah Air.
Berkolaborasi dan mendapat dukungan penuh dari PT Pegadaian, EMI menghadirkan 26 desainer terbaik yang menampilkan puluhan karya busana dalam fashion show bertajuk "Ethereal", bagian dari tema besar Ulos Simetria.
Baca Juga: Produksi 11 Jenama Fashion Lokal segera Hadir di Metro Department Store
Kolaborasi antara EMI dan Pegadaian menjadi salah satu sorotan pada gelaran BTN Indonesia Fashion Week 2026. Dukungan tersebut mencerminkan komitmen Pegadaian dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, memberdayakan pelaku UMKM fesyen, sekaligus melestarikan kekayaan wastra Nusantara melalui karya para desainer Indonesia.
Peragaan busana EMI turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Atalia Praratya, Anggota DPR RI Komisi XII sekaligus Ketua Pengawas Entrepreneur Modest Indonesia, Samantha Dewi, Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat, Jainuddin, Kepala Divisi ESG PT Pegadaian, Unggul Yoga Ananta, Pengawas EMI, Prof. Keri Lestari, Pembina EMI dan Siti Susiawati, Pembina EMI.
Ketua Umum EMI, Hanny Lovelly, mengatakan bahwa BTN Indonesia Fashion Week bukan sekadar ajang peragaan busana, melainkan ruang pembuktian bagi para desainer Indonesia untuk menunjukkan kualitas karya sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada dunia.
"Indonesia Fashion Week bukan sekadar runway. Ia adalah panggung pembuktian, di mana karya kita dinilai, budaya kita dihormati, dan mimpi kita dilihat oleh Indonesia bahkan dunia," ungkap Hanny Lovelly usai pembukaan IFW 2026 di Jakarta International Convention Center (29/7/2026), dikutip pada Jumat (31/7/2026).
Ia menambahkan, kesempatan tampil pada BTN Indonesia Fashion Week 2026 menjadi momentum penting bagi EMI untuk memperlihatkan bahwa para desainer Indonesia tidak hanya menciptakan produk fesyen, tetapi juga berperan sebagai penjaga warisan budaya bangsa.
"Tahun ini, dengan tema besar Ulos Simetria, EMI yang didukung oleh Pegadaian, diberi kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa kami bukan hanya desainer, tetapi juga penjaga wastra Nusantara," lanjutnya.
Hanny menambahkan, bahwa tujuan utama keikutsertaan EMI bukan sekadar mengikuti peragaan busana, melainkan membuka peluang yang lebih luas bagi para pelaku industri kreatif.
"Tujuan kami ikut IFW bukan hanya untuk show, tetapi untuk membuktikan bahwa organisasi desainer adalah wadah yang mampu membawa wastra lokal seperti tenun Sulawesi ke panggung nasional, membuka peluang ekonomi kreatif bagi anggota, serta berkolaborasi dengan BUMN seperti PT Pegadaian untuk kemajuan fashion Indonesia," imbuh Hanny.
Dalam showcase bertajuk "Ethereal", EMI menghadirkan koleksi dari berbagai brand dan desainer anggota, yakni Hanny Lovelly, Geggo Teguh, Klambikoe by Anti, The Moest Label, Jeny Tjahyawati, Ummu Maher, Kaski Atelier, Rumar by Rahmayulis, Lady Dahlia, Ethniq Couture, Inez Kantahuri, Toera Imara, Eldir, K'Anggo by Dewi, Z_Byzen by Yohnizen, Naimy 31, Mela Technotic, Binarpagi, Rika Mulle, Lia Soraya, dan Evy Susanti.
Tidak hanya busana, EMI juga melibatkan pelaku industri fesyen pendukung melalui koleksi scarf dari Kisera dan Marayascarf, produk sepatu dan tas dari Felistianova & Stevitri serta Arunika Dewi, hingga aksesori dari Oemaru, sehingga menghadirkan ekosistem modest fashion Indonesia yang semakin lengkap.
Melalui kolaborasi strategis bersama PT Pegadaian, Entrepreneur Modest Indonesia berharap semakin banyak desainer lokal memperoleh akses terhadap panggung nasional, memperluas jejaring bisnis, meningkatkan daya saing industri modest fashion Indonesia, serta mengangkat kekayaan wastra Nusantara agar semakin dikenal di pasar global.