Teknologi dan layanan seluler diproyeksikan berkontribusi sebesar US$1,4 triliun bagi perekonomian Asia Pasifik pada tahun 2030, meningkat 40% dari US$1 triliun yang dihasilkan saat ini, menurut laporan terbaru GSMA, Mobile Economy Asia Pacific 2026. Laporan tersebut menemukan bahwa fase pertumbuhan digital berikutnya tidak hanya dibentuk oleh konektivitas semata, tetapi juga oleh cara pemerintah, operator, dan penyedia teknologi merespons empat prioritas yang saling berkaitan:

  1. pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI);
  2. menurunnya tingkat kepercayaan digital;
  3. tingginya permintaan akan infrastruktur digital yang lebih tangguh; serta
  4. minat yang kian besar terhadap kedaulatan digital.

Laporan ini juga menyoroti pentingnya kedaulatan digital yang kian meningkat di kawasan Asia Pasifik. Pemerintah dan industri secara proaktif berinvestasi pada infrastruktur AI lokal, layanan cloud yang tepercaya, lingkungan data yang aman, serta kapabilitas digital guna mendukung prioritas nasional dengan tetap menjaga keterbukaan, inovasi, dan kolaborasi lintas batas.

Baca Juga: Mewujudkan SDM Unggul Bidang Teknologi untuk Membangun Masa Depan AI di Indonesia

Julian Gorman, Head of Asia Pacific, GSMA berkata, "Industri seluler memainkan peran yang semakin krusial dalam membentuk masa depan digital Asia Pasifik. Sebagaimana ditunjukkan dalam laporan ini, perekonomian dan masyarakat di seluruh kawasan mengalami digitalisasi yang pesat, di mana jaringan seluler bertindak sebagai fondasi bagi adopsi AI, kepercayaan digital, dan infrastruktur digital yang tangguh."

  • Laporan tersebut menemukan bahwa 5G, AI, dan IoT akan menghadirkan peningkatan produktivitas yang signifikan di kawasan Asia Pasifik, terutama di sektor manufaktur dan jasa yang secara bersama-sama diperkirakan menyumbang lebih dari separuh manfaat ekonomi dari teknologi seluler canggih;
  • Laporan ini juga mencatat bahwa persentase konsumen di ASEAN yang melaporkan diri mereka pernah menjadi korban penipuan meningkat dari 31% pada tahun 2024 menjadi 45% pada tahun 2025, menggarisbawahi urgensi tinggi dalam mengatasi penipuan serta memperkuat keamanan online;
  • Laporan ini menyoroti minat yang terus tumbuh terhadap kedaulatan digital, seiring upaya pemerintah diAsia Pasifik untuk memperkuat kapabilitas digital nasional, mendukung pengembangan AI yang tepercaya, serta memastikan infrastruktur digital kritikal mampu memenuhi kebutuhan ekonomi dan keamanan lokal.

Temuan Utama Lainnya dari Mobile Economy Asia Pacific 2026:

  • Koneksi 5G diproyeksikan mencapai 1,5 miliar pada tahun 2030 yang mewakili 50% dari seluruh koneksi seluler di Asia Pasifik;
  • Operator diperkirakan akan menggelontorkan belanja modal (capital expenditure) lebih dari US$200 miliar antara tahun 2025 dan 2030;
  • Ekosistem seluler menyokong 18 juta lapangan kerja di seluruh kawasan pada tahun 2025;
  • Lebih dari 700 juta orang dewasa masih belum tersambung ke internet (offline), meskipun wilayah tempat tinggal mereka telah tercakup oleh jaringan pita lebar seluler (mobile broadband).