E-commerce kini sudah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Berdasarkan studi bertajuk "State of Digital Commerce in Asia Pacific 2025" yang dilakukan YouGov bersama Visa (NYSE: V), 62% masyarakat Indonesia kini berbelanja online dua hingga tiga kali setiap bulan meningkat secara konsisten dibandingkan tahun 2024.
Seiring dengan semakin seringnya orang berbelanja online, konsumen Indonesia juga semakin cerdas dan selektif. Ini menunjukkan bahwa masa depan ritel di Indonesia bukan hanya soal kemudahan akses, tetapi juga tentang membangun ekosistem yang menawarkan kontrol yang jelas, keamanan yang terjamin, dan manfaat nyata bagi konsumen. Studi ini menemukan bahwa 78% konsumen Indonesia menggunakan akun dengan saldo tersimpan, angka tertinggi di kawasan Asia Pasifik.
Baca Juga: Blibli Ingatkan Masyarakat untuk Lakukan JEDA, Antisipasi Penipuan Daring
Kenyamanan dalam menggunakan layanan keuangan digital ini lalu mendorong konsumen untuk menuntut standar keamanan yang lebih baik. Kesadaran akan tokenisasi, teknologi yang menggantikan data kartu sensitif dengan data terenkripsi telah mencapai 34%. Kondisi ini menandakan bahwa pasar Indonesia siap untuk pengalaman pembayaran one click yang cepat tanpa mengabaikan keamanan.
Meski harga yang terjangkau dan pengiriman gratis masih menjadi daya tarik utama, konsumen Indonesia saat ini semakin memprioritaskan kredibilitas. Pengiriman yang lebih cepat, kebijakan pengembalian dana yang mudah dipahami, serta penjual yang tepercaya kini menjadi faktor penting dalam memutuskan untuk menyelesaikan pembelian.
AI: Dari pencarian hingga pengambilan keputusan
Kecerdasan buatan (AI) sudah mengubah cara masyarakat Indonesia berbelanja. Sebanyak 82% konsumen saat ini menggunakan AI untuk membantu pencarian, seperti membandingkan harga, mencari informasi produk, dan melacak pesanan. Angka ini diperkirakan akan meningkat hingga 95% dalam waktu dekat.
Namun, masih terdapat kesenjangan antara aktivitas pencarian (browsing) dan benar-benar membeli. Meskipun 32% konsumen menyatakan terbuka terhadap pembelian berbasis AI (agentic commerce), tingkat adopsinya masih dibatasi oleh sikap hati-hati. Konsumen menginginkan perlindungan yang jelas, khususnya jaminan tidak adanya biaya tersembunyi serta konfirmasi yang jelas dan transparan sebelum transaksi diselesaikan.
Hal ini mencerminkan tren yang lebih luas di kawasan Asia Pasifik. Di seluruh wilayah ini, 74% konsumen menggunakan AI untuk tahap pencarian, tetapi hampir sepertiga masih enggan membagikan data pribadi tanpa jaminan keamanan yang memadai. Di pasar berkembang seperti India dan Vietnam, tingkat keterbukaan terhadap perdagangan berbasis AI tergolong tinggi (42%). Pola penggunaan di Indonesia sendiri menunjukkan bahwa negara ini bergerak ke arah yang sama, dengan catatan kepercayaan konsumen harus terlebih dahulu dibangun dan diperkuat.
"Konsumen di Indonesia semakin antusias menggunakan AI dalam berbelanja, tetapi tetap menginginkan kejelasan dan perlindungan yang kuat saat proses pembayaran. Seiring dengan langkah pemerintah Indonesia dalam mendorong agenda digitalisasi, Visa berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan mempercepat adopsi pembayaran digital yang aman. Melalui teknologi tokenisasi jaringan, solusi Visa seperti Click to Pay, serta autentikasi tepercaya, kami menghadirkan pengalaman belanja yang praktis dan aman bagi seluruh masyarakat Indonesia," ujar Vira Widiyasari, Country Manager Visa Indonesia, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, dikutip Sabtu (4/4/2026).
Sebagai informasi, studi YouGov yang ditugaskan oleh Visa ini dilakukan secara online pada 11–19 September 2025 di 14 pasar Asia Pasifik. Data untuk Indonesia diambil dari sampel nasional yang mewakili sekitar 1.033 responden. Beberapa temuan utama meliputi: 62% berbelanja online 2–3 kali per bulan; 78% menggunakan akun dengan saldo tersimpan; 34% mengetahui tentang tokenisasi; dan 82% sudah menggunakan AI untuk pencarian produk.