PT Bundamedik Tbk (BMHS) melalui RSU Bunda Jakarta terus memperkuat posisinya sebagai pelopor layanan bedah robotik di Indonesia dengan meningkatkan kapabilitas layanan berbasis teknologi Da Vinci Xi.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang BMHS untuk menghadirkan layanan bedah modern yang mengombinasikan teknologi, keahlian klinis, serta kolaborasi multidisiplin guna meningkatkan keselamatan dan hasil terapi pasien.
Sebagai rumah sakit yang mulai mengembangkan bedah robotik sejak 2012, RSU Bunda Jakarta telah menangani hampir 1.000 prosedur bedah robotik untuk berbagai kasus kompleks dari beragam disiplin ilmu.
Baca Juga: BMHS Catat Pertumbuhan Laba Bersih 57% Sepanjang Tahun 2025
Berbagai pencapaian tersebut meliputi transplantasi ginjal berbasis robotik ketiga di Indonesia, tindakan skin sparing mastectomy pertama di Asia Tenggara, operasi pengangkatan tumor rektum, hingga miomektomi pada pasien dengan miom seberat 2,7 kilogram.
Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk, Ivan Rizal Sini, mengatakan kepemimpinan dalam layanan bedah robotik tidak hanya ditentukan oleh investasi teknologi, tetapi juga pengalaman klinis, kualitas sumber daya manusia, serta kemampuan menangani kasus-kasus yang semakin kompleks.
"Selama lebih dari satu dekade, BMHS secara konsisten membangun kompetensi dokter, memperkuat kolaborasi multidisiplin, dan mengembangkan standar praktik yang mengedepankan keselamatan pasien. Peningkatan kapabilitas layanan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang kami untuk terus menjadi rujukan dalam pengembangan bedah robotik di Indonesia," ujarnya, Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Minimnya Ruang Laktasi Hambat Pemberian ASI, BMHS Dorong Tempat Kerja Lebih Ramah bagi Ibu Menyusui
Menurut Ivan, penguatan layanan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem bedah robotik nasional melalui pendidikan, riset, serta pengembangan talenta medis.
Teknologi bedah robotik memungkinkan dokter melakukan tindakan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi, terutama pada area anatomi yang kompleks. Selain menghasilkan sayatan yang lebih kecil, teknologi ini juga dapat meminimalkan trauma jaringan sehingga mempercepat proses pemulihan pasien.
Perkuat Ekosistem Bedah Robotik Nasional
Untuk mempercepat pengembangan bedah robotik di Indonesia, BMHS menjalin kerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB).
Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan pendidikan, riset, inovasi teknologi kesehatan, hingga peningkatan kompetensi tenaga medis. Sebagai bentuk dukungan, BMHS juga menghibahkan sistem bedah robotik kepada FTMD ITB untuk mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian.
Baca Juga: BMHS Group dan Hong Kong Asia Medical Group Jalin Kemitraan Strategis
Inisiatif tersebut sejalan dengan transformasi sistem kesehatan nasional yang berfokus pada penguatan layanan rujukan, pengembangan sumber daya manusia kesehatan, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan penyedia layanan kesehatan.
Selain itu, BMHS terus memperluas akses layanan bedah robotik ke berbagai daerah. Salah satunya melalui kehadiran layanan bedah robotik di RSU Bunda Padang yang menjadi layanan pertama di Sumatera Barat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan teknologi robotik menjadi salah satu prioritas dalam transformasi kesehatan nasional.
"Kita definisikan enam pilar reformasi, yang pilar nomor enamnya khusus mengenai teknologi kesehatan dan ada tiga teknologi kesehatan yang kita fokuskan, satu adalah Robotics Technology, AI on health, dan biotechnology," kata Budi.
Baca Juga: BMHS Catatkan Kenaikan Laba 199% di Semester 1/2024
Ia menambahkan, rumah sakit swasta memiliki peran strategis dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan bedah robotik mengingat jumlahnya lebih banyak dibandingkan rumah sakit pemerintah.
Dorong Pendidikan dan Transfer Pengetahuan
Direktur Utama PT Bundamedik Tbk Agus Heru Darjono menilai kemajuan layanan kesehatan tidak hanya diukur dari kemampuan menghadirkan teknologi canggih, tetapi juga dari kontribusi dalam membangun ekosistem kesehatan yang berkelanjutan.
Menurut Agus, BMHS akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung transformasi kesehatan melalui pengembangan kompetensi tenaga medis, riset, inovasi, dan perluasan akses layanan.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, BMHS turut mendukung peluncuran Buku Ajar Bedah Robotik Ginekologi yang disusun berdasarkan pengalaman klinis dan berbagai kasus nyata yang telah ditangani tim dokter bedah robotik.
Buku tersebut diharapkan menjadi referensi bagi tenaga medis Indonesia sekaligus mendorong transfer pengetahuan, peningkatan kompetensi, serta penyusunan standar praktik bedah robotik yang sesuai dengan kebutuhan layanan kesehatan nasional.
Ivan Rizal Sini yang juga merupakan dokter bedah robotik pertama di Indonesia sekaligus salah satu penulis buku tersebut berharap pengalaman klinis yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade dapat menjadi bekal bagi semakin banyak dokter di Indonesia.
"Kemajuan bedah robotik tidak cukup hanya ditopang oleh teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman klinis, ilmu pengetahuan, dan praktik terbaik dapat terus dibagikan agar semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat," tutupnya.