Hubungan antara stres dan eksim juga tidak kalah kompleks. Pada penderita dermatitis atopik atau eksim, stres dapat mengganggu fungsi sawar kulit dan meningkatkan kehilangan air melalui kulit atau transepidermal water loss. Perubahan tersebut membuat kulit menjadi lebih rentan terhadap kekeringan, rasa gatal, dan peradangan.

Masalahnya, rasa gatal akibat eksim dapat memicu keinginan untuk menggaruk. Ketika digaruk, lapisan pelindung kulit semakin rusak sehingga peradangan dan rasa gatal dapat bertambah parah. Terbentuklah apa yang dikenal sebagai siklus gatal-garuk yang membuat kondisi eksim semakin sulit dikendalikan.

Pengaruh stres terhadap penyakit kulit pun tidak hanya terjadi melalui mekanisme biologis. Stres berkepanjangan dapat mengganggu kualitas tidur, mengubah pola makan, menurunkan kepatuhan seseorang dalam menjalani pengobatan, hingga mendorong kebiasaan seperti menggaruk atau mengorek kulit. Berbagai faktor tersebut dapat memperburuk masalah kulit yang sebelumnya sudah ada.

Stres juga dapat memperburuk gangguan hormonal atau metabolik yang mendasari kondisi kulit tertentu. Karena itu, ketika menangani pasien dengan masalah kulit, dokter spesialis kulit perlu melihat kondisi pasien secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada gejala yang terlihat di permukaan kulit.

Pada kasus tertentu, misalnya, dokter dapat mempertimbangkan riwayat menstruasi, tanda-tanda ketidakseimbangan hormon, kondisi medis lain, pola tidur, hingga gaya hidup pasien untuk mengetahui faktor yang mungkin berperan dalam munculnya atau memburuknya masalah kulit.

“Dalam praktiknya, mengobati kulit saja biasanya tidaklah cukup; perbaikan kondisi yang nyata hanya dapat dicapai dengan memandang pasien secara utuh, mengingat kondisi kulit dipengaruhi tidak hanya oleh faktor genetik dan perawatan kulit, tetapi juga oleh hormon, fungsi kekebalan tubuh, gaya hidup, dan kesejahteraan psikologis,” pungkas Dr. Hina Kukreja.

Dengan demikian, stres sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya penyebab jerawat maupun eksim. Namun, faktor psikologis juga tidak seharusnya diabaikan, terutama jika seseorang menyadari bahwa masalah kulitnya kerap memburuk ketika sedang berada dalam tekanan.

Baca Juga: Benarkah Stres Bisa Menyebabkan Demensia? Ini Penjelasan Neuropsikolog