Growthmates, pernahkah Anda merasa jerawat tiba-tiba semakin parah menjelang presentasi penting, saat menghadapi ujian, atau ketika sedang berada dalam tekanan berat? Hal serupa juga dapat terjadi pada penderita eksim yang mendapati kulitnya lebih gatal dan meradang ketika sedang mengalami stres.
Kondisi tersebut bukan sekadar kebetulan. Sejumlah bukti ilmiah menunjukkan adanya hubungan antara stres psikologis dan berbagai penyakit kulit inflamasi kronis. Kulit dan sistem saraf memiliki hubungan yang sangat erat, sehingga kondisi psikologis dapat memengaruhi sejumlah proses biologis yang berperan dalam kesehatan kulit.
Menurut Direktur Medis Zurie Skin Clinic, Dr. Hina Kukreja, stres psikologis dapat memengaruhi kulit melalui sejumlah mekanisme biologis. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan mengaktifkan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) serta sistem saraf simpatis. Proses ini kemudian memicu pelepasan kortisol dan berbagai mediator neuroendokrin lainnya.
“Stres psikologis memicu aktivitas sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) dan sistem saraf simpatis, yang menyebabkan pelepasan kortisol dan mediator neuroendokrin lainnya,” jelas Dr. Hina Kukreja, dikutip dari Times of India, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, rangkaian respons tersebut dapat menurunkan fungsi sawar kulit, mengubah respons sistem imun, sekaligus mengaktifkan jalur peradangan. Kombinasi berbagai mekanisme itu pada akhirnya dapat memengaruhi sejumlah kondisi dermatologis yang umum dialami.
Pada jerawat, misalnya, stres diketahui dapat meningkatkan aktivitas kelenjar sebasea atau kelenjar minyak. Stres juga dapat memicu pelepasan mediator pro-inflamasi yang berpotensi memperburuk lesi jerawat yang sudah mengalami peradangan.
Meski demikian, stres bukanlah penyebab utama jerawat. Faktor seperti genetik, hormon, produksi sebum, penyumbatan pori-pori, dan bakteri juga berperan dalam munculnya jerawat. Namun, bagi orang yang memang rentan berjerawat, stres dapat menjadi salah satu faktor yang memicu atau memperburuk kekambuhan.
Pada perempuan, kondisi jerawat juga dapat mengalami perubahan mengikuti siklus menstruasi. Stres psikologis dapat semakin memperburuk kondisi tersebut, terutama pada mereka yang memiliki gangguan hormonal tertentu. Salah satunya adalah sindrom ovarium polikistik (PCOS).
Kadar kortisol yang meningkat akibat stres berkepanjangan dapat berhubungan dengan peningkatan produksi sebum dan peradangan. Pada individu yang rentan, stres kronis juga dapat berkaitan dengan perubahan metabolik, termasuk resistensi insulin, yang kemudian turut memengaruhi kondisi kulit.
Baca Juga: Kepala Serasa Berdenyut Saat Banyak Pikiran? Ini Hubungan Stres dan Migrain yang Wajib Kamu Tahu
Hubungan antara stres dan eksim juga tidak kalah kompleks. Pada penderita dermatitis atopik atau eksim, stres dapat mengganggu fungsi sawar kulit dan meningkatkan kehilangan air melalui kulit atau transepidermal water loss. Perubahan tersebut membuat kulit menjadi lebih rentan terhadap kekeringan, rasa gatal, dan peradangan.
Masalahnya, rasa gatal akibat eksim dapat memicu keinginan untuk menggaruk. Ketika digaruk, lapisan pelindung kulit semakin rusak sehingga peradangan dan rasa gatal dapat bertambah parah. Terbentuklah apa yang dikenal sebagai siklus gatal-garuk yang membuat kondisi eksim semakin sulit dikendalikan.
Pengaruh stres terhadap penyakit kulit pun tidak hanya terjadi melalui mekanisme biologis. Stres berkepanjangan dapat mengganggu kualitas tidur, mengubah pola makan, menurunkan kepatuhan seseorang dalam menjalani pengobatan, hingga mendorong kebiasaan seperti menggaruk atau mengorek kulit. Berbagai faktor tersebut dapat memperburuk masalah kulit yang sebelumnya sudah ada.
Stres juga dapat memperburuk gangguan hormonal atau metabolik yang mendasari kondisi kulit tertentu. Karena itu, ketika menangani pasien dengan masalah kulit, dokter spesialis kulit perlu melihat kondisi pasien secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada gejala yang terlihat di permukaan kulit.
Pada kasus tertentu, misalnya, dokter dapat mempertimbangkan riwayat menstruasi, tanda-tanda ketidakseimbangan hormon, kondisi medis lain, pola tidur, hingga gaya hidup pasien untuk mengetahui faktor yang mungkin berperan dalam munculnya atau memburuknya masalah kulit.
“Dalam praktiknya, mengobati kulit saja biasanya tidaklah cukup; perbaikan kondisi yang nyata hanya dapat dicapai dengan memandang pasien secara utuh, mengingat kondisi kulit dipengaruhi tidak hanya oleh faktor genetik dan perawatan kulit, tetapi juga oleh hormon, fungsi kekebalan tubuh, gaya hidup, dan kesejahteraan psikologis,” pungkas Dr. Hina Kukreja.
Dengan demikian, stres sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya penyebab jerawat maupun eksim. Namun, faktor psikologis juga tidak seharusnya diabaikan, terutama jika seseorang menyadari bahwa masalah kulitnya kerap memburuk ketika sedang berada dalam tekanan.
Baca Juga: Benarkah Stres Bisa Menyebabkan Demensia? Ini Penjelasan Neuropsikolog