Bank Indonesia (BI) mempertegas komitmen untuk terus mengangkat kekayaan budaya Nusantara melalui Museum Bank Indonesia (MuBI) maupun desain uang rupiah. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Sani Eka Duta, mengatakan bahwa Museum Bank Indonesia memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyimpan sejarah. Menurutnya, museum diharapkan menjadi pusat pembelajaran yang mampu menghubungkan sejarah ekonomi dengan kekayaan budaya Indonesia.

Baca Juga: Strategi Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah: Tahan Suku Bunga, Peluas Kebijakan Insentif Valas

"Teman-teman bisa lihat di dalam mata uang kita selalu ada dua sisi. Di satu sisi ada pahlawan-pahlawan Indonesia, sementara di sisi belakang ada tari-tarian. Pada seri-seri sebelumnya juga ada keindahan alam Indonesia," ungkap Sani dalam Kuliah Informal Kebanksentralan yang digelar dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-17 Museum Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Ia menjelaskan, keberadaan unsur budaya pada desain uang rupiah menjadi salah satu cara BI mengingatkan masyarakat bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya dan seni yang harus terus dijaga.

"Indonesia adalah sebuah negara yang kaya akan budaya dan seni. Yang dilakukan museum ini tidak akan berhenti sampai di sini. Kami akan terus menggelar pameran-pameran untuk mengedukasi masyarakat bahwa Bank Indonesia juga hadir untuk melestarikan setiap budaya yang kita miliki sebagai sebuah bangsa," tambahnya.

Untuk diketahui, dalam peringatan HUT ke-17 Museum Bank Indonesia, BI mengangkat pameran bertajuk "Iŋ Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi" serta pameran budaya "Ingat Wayang, Ingat Indonesia". Tema tersebut dipilih untuk mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, memahami bahwa perjalanan ekonomi bangsa tidak dapat dipisahkan dari perkembangan budaya.

Sani mengungkapkan, budaya wayang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perkembangan uang di Indonesia, termasuk pada masa penerbitan uang oleh De Javasche Bank.

"MUBI mencoba mengingatkan kembali bahwa perjalanan budaya juga terekam dalam proses pencetakan uang dari masa ke masa," ujarnya.

Selain itu, pemilihan tema wayang juga menjadi bentuk dukungan terhadap seni pertunjukan wayang orang yang kini menghadapi berbagai tantangan. BI berharap upaya tersebut dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian budaya tradisional.

"Upaya ini dilakukan Bank Indonesia sebagai bagian dari effort untuk mengenalkan kembali kepada masyarakat bahwa kita punya budaya luar biasa yaitu wayang orang. Ini harus kita dukung supaya anak cucu kita tidak hanya melihat wayang orang dari gambar, tetapi juga mengenalnya secara langsung," kata Sani.

Sementara itu, Kepala Museum Bank Indonesia Rio Wardhanu menegaskan MuBI akan terus menghadirkan berbagai program edukasi dan pameran budaya untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai sejarah ekonomi dan kebudayaan Indonesia.

Menurut Rio, museum secara rutin menyelenggarakan beragam kegiatan, mulai dari jelajah museum bersama edukator tersertifikasi, program edukasi interaktif, hingga pameran tematik yang menghubungkan sejarah kebanksentralan dengan budaya Nusantara.

"Peran penting inilah yang melandasi komitmen MuBI untuk terus berinovasi dalam berbagai lini dan menghadirkan pelayanan terbaik bagi seluruh pengunjung," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Sani juga menegaskan visi BI untuk memperkuat peran Museum Bank Indonesia sebagai pusat edukasi sejarah moneter dan sistem pembayaran nasional.

"Kami berharap Museum Bank Indonesia tidak hanya menjadi guardian of the past, tetapi juga menjadi center of education dan center of excellence. Museum ini diharapkan menjadi tempat berkumpul dan berdiskusi para cendekia untuk membahas berbagai pemikiran mengenai masa depan Indonesia," tutupnya.