Nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan hingga menembus level Rp18.100 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) menyebut bahwa pelemahan mata uang Garuda tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, mulai dari eskalasi konflik geopolitik hingga kebijakan moneter AS yang masih ketat.
Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan bahwa rupiah sempat menunjukkan penguatan pada pertengahan September 2026. Namun, tren tersebut berbalik pada Oktober hingga awal November 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: OJK Buka Suara Soal Nasabah MNC Bank Alami Gangguan Transaksi dan Sulit Lakukan Penarikan Dana
Berdasarkan catatan BI, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp18.188 per dolar AS pada Rabu (28/10/2026) yang menjadi posisi terendah sepanjang sejarah. Pada penutupan perdagangan hari tersebut, rupiah berada di level Rp18.183 per dolar AS.
Hingga memasuki awal November, tekanan masih membayangi pergerakan rupiah. Pada Senin (2/11/2026), rupiah tercatat berada di level Rp18.145 per dolar AS. Tekanan berlanjut pada Selasa (3/11/2026), ketika rupiah ditutup melemah ke posisi Rp18.160 per dolar AS.
Baca Juga: Transfer Bank dan E-Wallet Kena PPN Mulai 9 November 2026? Ini Penjelasan Menkeu Suahasil Nazara
"Pelemahan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat, serta sentimen investor global terhadap aset negara berkembang," pungkas Destry Damayanti dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta pada Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global dan mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Kondisi tersebut turut memengaruhi minat investasi pada negara-negara berkembang.
Di sisi lain, kebijakan moneter AS yang cenderung ketat membuat aset berdenominasi dolar AS tetap menjadi perhatian investor global. Situasi ini memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, BI mencatat sejumlah indikator eksternal Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif kuat. Posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar atau berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
"Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor," tambah Destry.
Dari sisi perdagangan, lanjutnya, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 membukukan surplus sebesar US$10,61 miliar. Sementara itu, surplus khusus September 2026 mencapai US$3,36 miliar.
Adapun dari sisi aliran investasi, investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 mencatatkan arus keluar bersih atau net outflow sebesar US$0,08 miliar. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh keluarnya dana asing dari pasar saham domestik. Namun, aliran modal asing mulai menunjukkan perbaikan pada awal triwulan IV 2026. Hingga 23 Oktober 2026, investasi portofolio asing mencatatkan arus masuk bersih atau net inflow sebesar US$0,04 miliar.
"Aliran masuk modal asing pada awal triwulan IV terutama didukung oleh instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," ungkap Destry.