Perdagangan pasar saham dan valuta asing Indonesia kembali mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hampir sepanjang perdagangan dengan hanya sesaat menyentuh zona hijau di level 5.453,65. Hingga kemudian, IHSG anjlok sedalam -1,22% ke level 5.373,09 pada penutupan sesi kedua, Senin (26/10/2026).
Pelemahan pada awal pekan ini mematahkan tren penguatan yang sudah dicatatkan IHSG empat hari berturut-turut pada pekan sebelumnya.
Baca Juga: Gubernur BI Buka-Bukaan 3 Faktor Kunci yang Bikin Rupiah Melemah hingga Sentuh Rp18.000 per Dolar AS
Koreksi IHSG sepanjang hari ini merupakan imbas dari aksi jual yang masih tinggi di pasar saham. Data perdagangan Bursa mencatat, net sell investor mencapai Rp2,03 triliun per Senin sore. Nilai tersebut setara dengan net sell Rp8,03% dalam sepekan terakhir.
Tak hanya di pasar saham, tekanan juga kembali terjadi di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga menembus level Rp18.100 per dolar AS. Adpun pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah masih bergerak di level Rp18.025 per dolar AS.
Bicara mengenai tekanan jual, belum lama ini Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa outflow modal asing tak hanya terjadi di pasar saham, melainkan juga di pasar keuangan domestik.
Baca Juga: IHSG Menguat Tiga Hari Berturut-Turut Meski Dibayangi Aksi Jual Asing Besar-Besaran
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyebut bahwa fenomena tersebut juga tercermin pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Sejak pengumuman tersebut rilis, outflow tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi SBN dan SRBI juga terjadi outflow," tegas Erwin dalam Taklimat Media Bank Indonesia bertajuk "Memahami Arah Kebijakan Bank Indonesia (BI): Menjaga Stabilitas Rupiah, Memastikan Kecukupan Likuiditas" di Jakarta, Jumat (23/10/2026) lalu.
Erwin menjelaskan, BI menyiapkan sejumlah langkah untuk memitigasi dampak outflow tersebut terhadap likuiditas pasar. Salah satu upaya yang dilakukan BI ialah memastikan likuiditas nilai tukar rupiah dalam jumlah yang cukup dan memadai.
"Karena bagaimanapun transaksi di pasar keuangan itu membutuhkan likuiditas rupiah sehingga kami memastikan likuiditas rupiah berada dalam jumlah yang cukup dan memadai untuk memfasilitasi transaksi yang terjadi," tambah Erwin.
Berikutnya, BI juga memitigasi dampak rambatan outflow tersebut terhadap volatilitas nilai tukar rupiah. Dalam hal ini, BI berkomitmen untuk memperkuat operasi moneter di pasar valas, termasuk untuk transaksi swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
"Tapi so far kami melihat bahwa pergerakan nilai tukar tidak berlebihan. Memang sempat menyentuh di atas Rp18.000 per dolar AS, tapi tidak terlalu jauh, masih bisa kami kelola dengan baik," tambah Erwin.