Anggapan bahwa orang gemuk atau yang mengalami obesitas lebih rentan terserang penyakit jantung bukan sekadar mitos. Secara medis, kondisi tersebut memang berkaitan erat dengan meningkatnya risiko gangguan kardiovaskular.
Menurut Dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, seorang dokter spesialis penyakit dalam yang dikenal sebagai vaksinator di Istana Negara untuk Presiden RI, obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit jantung, mulai dari serangan jantung, hipertensi, hingga penyakit arteri koroner. Penumpukan lemak berlebih di tubuh memicu rangkaian proses yang merusak sistem kardiovaskular secara bertahap.
Obesitas dapat menyebabkan resistensi insulin yang berujung pada diabetes tipe 2, kondisi yang merusak saraf serta pembuluh darah. Beban kerja jantung juga meningkat akibat volume darah yang lebih tinggi, memicu hipertrofi jantung dan pada akhirnya berpotensi menyebabkan gagal jantung kongestif. Selain itu, penumpukan lemak di arteri mempermudah terbentuknya gumpalan darah yang meningkatkan risiko aritmia dan iskemia.
Baca Juga: 5 Buah Merah yang Dikenal sebagai Pelindung Jantung Alami, Yuk Mulai Konsumsi!
Hubungan Obesitas dan Penyakit Jantung
Obesitas, yang umumnya ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas 30 sering kali dipicu pola makan tidak sehat dan minim aktivitas fisik. Kondisi ini berkontribusi pada penyakit jantung melalui beberapa mekanisme utama, antara lain:
Hipertensi
Kelebihan lemak meningkatkan volume darah sehingga jantung bekerja lebih keras. Tekanan yang terus-menerus dapat merusak arteri dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
Baca Juga: Mengenal Penyebab Hipertensi dan Cara Mengobatinya
Kolesterol Tinggi
Produksi kolesterol LDL yang berlebihan memicu terbentuknya plak aterosklerosis pada arteri koroner—penyebab utama penyakit jantung.
Diabetes Tipe 2
Risiko diabetes meningkat pada individu obesitas, mempercepat kerusakan pembuluh darah serta memperburuk kondisi jantung.
Peradangan Sistemik
Lemak visceral di sekitar organ melepaskan zat proinflamasi yang mempercepat penyumbatan arteri.
Studi yang dikutip Andi Khomeini Takdir menunjukkan individu dengan obesitas memiliki risiko penyakit jantung dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan mereka dengan berat badan normal—termasuk risiko serangan jantung, gagal jantung, dan aritmia.
Gejala dan Diagnosis
Gejala penyakit jantung pada individu obesitas sering menyerupai kondisi umum, tetapi kerap luput dikenali karena dianggap sebagai dampak berat badan berlebih, seperti mudah lelah atau sesak napas.
Gejala yang perlu diwaspadai meliputi:
Nyeri dada seperti ditekan atau terbakar, menjalar ke lengan, rahang, atau punggung
Sesak napas, mual, atau keringat dingin
Pada wanita, keluhan dapat lebih samar seperti kelelahan ekstrem atau gangguan pencernaan
Pembengkakan kaki, detak jantung tidak teratur, atau pusing
Diagnosis biasanya dilakukan melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), tes darah, angiografi, atau ekokardiografi. Deteksi dini sangat penting karena penundaan penanganan dapat berakibat fatal, terutama bagi individu dengan obesitas.
Pencegahan dan Pengelolaan
Pencegahan menjadi langkah utama dalam menurunkan risiko penyakit jantung. Kedua dokter menekankan pentingnya perubahan gaya hidup sebagai fondasi kesehatan jangka panjang.
Rekomendasi yang disarankan meliputi:
Pola makan seimbang
Mengurangi lemak jenuh, gula, dan garam, serta meningkatkan konsumsi sayur, buah, dan protein rendah lemak.
Aktivitas fisik rutin
Minimal 150 menit olahraga aerobik per minggu, seperti berjalan kaki atau berenang, untuk menjaga fungsi jantung dan menurunkan berat badan.
Manajemen berat badan
Penurunan 5–10% berat badan awal sudah terbukti mampu mengurangi risiko kardiovaskular.
Tips sederhana juga dapat diterapkan dalam rutinitas harian, seperti cukup minum air putih, makan dalam porsi kecil, dan menghindari makan larut malam.
Jika penyakit jantung sudah terjadi, pengobatan dapat mencakup obat antiplatelet, statin, hingga terapi penurun tekanan darah. Pada kondisi penyumbatan berat, prosedur medis seperti angioplasti dengan pemasangan stent atau operasi bypass koroner mungkin diperlukan untuk memulihkan aliran darah ke jantung.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan jantung bukan hanya soal angka di timbangan. Kesadaran akan dampak obesitas serta langkah pencegahan melalui pola hidup sehat dan deteksi dini terbukti jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika penyakit sudah berkembang.